Untuk
kami di sulawesi, khususnya saya yang berdomisli di Makassar, sayur ini sudah
tidak asing lagi. Sayur yang memiliki rasa khas. Walau dimasak sesederhana
apapun tetap enak, menurut saya dan tentunya diamini oleh para penikmat sayur
daun kelor ini.
Yup daun kelor. Sayur yang malah menjadi buah
bibir belakangan ini, setidaknya di medsos, bahwa sayur ini ternyata memiliki
banyak manfaat, seperti yang saya kutip dari Wikipedia di bawah ini :
“Penelitian terhadap manfaat tanaman mulai dari
daun, kulit batang, buah sampai bijinya, sejak awal tahun 1980-an telah
dimulai. Ada sebuah laporan hasil penelitian, kajian dan pengembangan terkait
dengan pemanfaatan tanaman kelor untuk penghijauan serta penahan penggurunan di
Etiopia, Somalia, dan Kenya oleh tim Jerman, di dalam berkala Institute for
Scientific Cooperation, Tubingen, 1993. Laporan tersebut dikhususkan terhadap
kawasan yang termasuk Etiopia, Somalia, dan Sudan, karena sejak lama sudah menjadi
tradisi penduduknya untuk menanam pohon kelor, mengingat pohon tersebut dapat
menjadi bagian di dalam kehidupan sehari-hari sebagai bahan sayuran, bahan baku
obat-obatan, juga untuk diperdagangkan. Di kawasan Arba Minch dan Konso, pohon
kelor justru digunakan sebagai tanaman untuk penahan longsor, konservasi tanah,
dan terasering. Sehingga pada musim hujan walau dalam jumlah yang paling
minimal, jatuhan air hujan akan dapat ditahan oleh sistem akar kelor, dan pada
musim kemarau “tabungan” air sekitar akar kelor akan menjadi sumber air bagi
tanaman lain. Juga karena sistem akar kelor cukup rapat, bencana longsor jarang
terjadi.
Bayi dan anak-anak pada masa pertumbuhan dianjurkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO untuk mengkonsumsi daun kelor.
Perbandingan gram, daun kelor mengandung:7 x vitamin C pada jeruk 4 x calcium pada susu 4 x vitamin A pada wortel 2 x protein pada susu 3 x potasium pada pisang
Organisasi
ini juga menobatkan kelor sebagai pohon ajaib setelah melakukan studi dan
menemukan bahwa tumbuhan ini berjasa sebagai penambah kesehatan berharga murah
selama 40 tahun ini di negara-negara termiskin di dunia. Pohon kelor memang
tersebar luas di padang-padang Afrika, Amerika Latin, dan Asia. National
Institute of Health (NIH) pada 21 Maret 2008 mengatakan, bahwa pohon kelor
“Telah digunakan sebagai obat oleh berbagai kelompok etnis asli untuk mencegah
atau mengobati lebih dari 300 jenis penyakit. Tradisi pengobatan ayurveda India
kuno menunjukkan bahwa 300 jenis penyakit dapat diobati dengan daun moringa
oleifera.
Dari
hasil analisis kandungan nutrisi dapat diketahui bahwa daun kelor memiliki
potensi yang sangat baik untuk melengkapi kebutuhan nutrisi dalam tubuh. Dengan
mengonsumsi daun kelor maka keseimbangan nutrisi dalam tubuh akan terpenuhi
sehingga orang yang mengonsumsi daun kelor akan terbantu untuk meningkatkan
energi dan ketahanan tubuhnya. "
Waaah…keren,keren,keren.
Selama
ini saya hanya mengenal daun kelor sebagai sayur favorit yang tidak bosan untuk
dikonsumsi. Dibuat sayur bening biasa, atau dicampur dengan jantung pisang. Hmmm…how delicious. Ada juga
yang mengkonsumsinya dalam bentuk jus. Kalau saya masih belum sanggup. Hiks.
Bukan hanya daunnya yang sering dibuat sayur tapi juga buahnya.
Di
beberapa tempat malah daun kelor ini tidak dianjurkan untuk dikonsumsi karena
digunakan untuk memandikan jenazah atau keyakinan mistis lainnya yakni dipercaya
sebagai peluntur susuk. Termasuk di daerah Kalimantan, tempat saya dan keluarga
berdomisili saat ini, daun kelor masih dianggap aneh untuk dikonsumsi. Yang mengkonsumsi
rata-rata pendatang, apalagi dari Sulawesi seperti saya ^_^
Setelah
mencari informasi tentang daun kelor, ternyata sebagian orang sering
memperbandingkan daun kelor dengan daun bidara. Bentuknya memang mirip. Hanya saja
daun kelor ukuran daunnya lebih kecil dibanding bidara. Bentuk pohon bidara
juga sangat rimbun dan melebar sedangkan pohon kelor menjulang ke atas. Perbedaannya
lagi, daun bidara daunnya berduri, hati-hati memegang pohon bidara nanti
ketusuk. Dari sisi buah juga beda
banget, buah kelor memangjang sedangkan buah bidara bulat-bulat gitu. Yang
pasti, persamaan keduanya yakni keduanya tumbuh di samping rumahku hehe…
![]() |
Daun Bidara dan buahnya |
![]() |
Daun Kelor dan buahnya |
Menanam
pohon kelor juga sangat mudah, cukup menancapkan batang besarnya, dan rutin
menyiram insya Allah tumbuh. Dan menurut info dari Wikipedia di atas, pohon
kelor termasuk ‘bandel’ yang sanggup hidup di daerah kering.
Daun
kelor bagi saya memang sangat enak untuk dikonsumsi, hanya saja mengerjakannya
membutuhkan ekstra kesabaran. Kata suami saya “lama kerjanya, cepat habisnya
kalau dimakan” ^_^
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Syukron telah membaca postingan kami, silahkan meninggalkan komentar ^_^