Tampilkan postingan dengan label Review buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

Berkreasi sambil bercerita

Judul  Buku : Origami, berkreasi sambil bercerita
Penulis : Astri Damayanti
Penerbit : Indria Pustaka
ISBN : 978 979 1475 31 0
Ketebalan : 54 + 3 halaman
Ukuran : 19 x 23,2 x 0,3 cm

Buku ini merupakan hadiah dari penulisnya yang mengadakan kuis di fan page Blogger VivaLog, bagi yang artikelnya terposting pada pekan yang ditentukan . Alhamdulillah, walaupun bukan pemenang tiga besar, tetapi mbak Astri sudah berbaik hati menghadiahkan kepada saya buku keren ini. Hadiah yang sangat cocok buat saya, yang memiliki tiga anak yang semuanya masih kanak-kanak.

Sesuai judul bukunya tentu sudah bisa tertebak kalau buku ini berisikan kreasi Origami. Semua tentu tahu kan yang dimaksud origami? Tahu dong...  yakni seni melipat kertas yang berasal dari Jepang. Berasal dari kata “ori” yang berarti lipat dan “kami” yang berarti kertas.

Di dalam buku ini berisi 10 kreasi origami yang bertemakan binatang.  Ayam, angsa, kepiting, serigala, kelelawar, lumba-lumba, udang, kepik, anjing dan kelinci. Tidak seperti buku Origami umumnya yang biasanya hanya berisikan langkah-langkah membuat origami, dalam buku ini juga dilengkapi Fabel sesuai karakter binatang yang telah dibuat. Dalam tiap cerita berisi satu hingga tiga tokoh binatang yang kesemuanya masih berada dalam lingkup binatang yang dikreasikan dalam buku ini. Asyik ya?

Kita bisa membuat terlebih dahulu semua karakter binatang yang ada, lalu dijadikan ilustrasi saat membacakan fabel yang ada dalam buku ini. Atau bisa juga membuat karakter sesuai cerita yang dibaca terlebih dahulu. Misalnya saja cerita tentang "Kepik yang iri" berisi karakter kepik, srigala dan kelinci, jadi kita bisa membuat karakter kepik, srigala dan kelinci terlebih dahulu. Anak-anak tentu akan sangat senang.

Salah satu cerita dalam buku ini terdiri dari
tiga karakter : kepik, serigala dan kelinci

 Langkah-langkah pembuatan origaminya pun cukup jelas dengan gambar yang cukup besar, namun jika ada detail yang cukup sulit, orang tua bisa mendampingi anak-anak dalam membuatnya.

Contoh langkah-langkah origami pada buku

Seperti buku anak pada umumnya, tampilan buku ini menarik, baik ilustrasi cover maupun isi buku. Tulisan dan gambar warna-warni khas buku anak, walaupun ada sekitar 10 lembar yang monokrom, namun tidak mengurangi daya tarik dari buku ini.

Dan satu lagi ada bonus kertas origaminya loh, jadi bisa langsung mempraktekkan isi buku ini dengan segera.

Bonus kertas origami yang disertakan dalam buku ini


Buku yang menarik bukan? Terutama untuk buah hati kita yang gemar berkreasi...

Duo bersaudara sudah sibuk mempraktekkan isi buku


Kamis, 15 Januari 2015

[Review Buku] Cerita Unik Binatang

Judul : Cerita Unik Binatang
Cerita : nagiga
Ilustrasi : Mega Dian Perkasa
Penerbit :  Bhuana Ilmu Populer (BIP)
ISBN 13 : 978-602-249798-1
Ukuran : 19 x 23 x 0,6 cm
Ketebalan : 104 halaman

Buku ini menjadi special karena dibeli dari hasil tabungan anak-anak saat liburan tengah semester di toko Buku Gramedia. Berisi kumpulan fabel (cerita yang menceritakan kehidupan hewan dengan perilaku manusia), tepatnya ada 25 pilihan cerita. Tiap cerita cukup ringkas yang dilengkapi dengan ilustrasi gambar yang menarik. Anak-anak suka ^_^

Yang menarik dari buku ini, anak-anak bisa mengenal lebih dekat dengan binatang yang diperankan melalui masing-masing karakter dalam cerita yang disajikan. Misalnya saja, kanguru yang memiliki kantung untuk menyimpan anak-anaknya, si udang yang membungkuk karena tidak memiliki tulang belakang, buaya yang menggendong bayi-bayinya dengan memasukkan mereka ke dalam mulutnya, proses motamorforsis kupu-kupu, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di setiap akhir cerita selalu disertai dengan kolom “Tahukah Kamu?”, berisi ringkasan pengetahuan tentang hewan yang diceritakan. Salah satu contoh isi dari kolom ini bisa dilihat dari paragraf berikut yang menjelaskan tentang binatang unta.

Tahukah kamu?
Unta adalah binatang yang hidup di padang pasir. Dia minum sangat banyak. Lalu menyimpan air di dalam punuknya. Dia bisa bertahan untuk tidak minum hingga berhari-hari selama persediaan di punuk masih ada. Punuk unta yang penuh air akan terlihat menggunung. Bila punuk tersebut sudah kempis, berarti unta harus minum dan menyimpan air lagi. Unta juga memiliki lapisan kelopak mata sebagai pelindung mata dari debu.

Contoh isi buku

Menarik bukan? Anak-anak bisa belajar melalui cerita. Bukan hanya untuk anak-anak saja, saya sendiri akhirnya memiliki tambahan pengetahuan setelah membaca buku ini.

Satu hal lagi, penampilan buku ini menarik terutama untuk anak-anak. Pemilihan warna-warna yang lembut, cover buku yang glossy, pemilihan kertas juga cukup tebal.

Insya Allah recommended sebagai tambahan koleksi buku untuk anak-anak kita.

Rabu, 03 Desember 2014

Solusi mengendalikan emosi


Judul Buku : Ayo Marah, Buku Komplit Manajemen Marah
Penulis : Irawati Istadi
Penerbit : Pustaka Inti
Cetakan: Pertama, Agustus 2010
Ketebalan : 212 + 12 halaman
Ukuran : 16 x 24 cm

Buku ini adalah buku ketiga yang saya baca dari buku Irawati Istadi. Satu hal yang saya sukai dari gaya kepenulisan ibu Irawati Istadi adalah tulisan yang mengalir, sarat akan ilmu, hikmah dan nasihat namun tidak terkesan menggurui, ditambah lagi bahwa tulisan yang ada dalam buku ini merupakan implementasi dari pengalaman pribadi penulis. 

Seperti dituliskan pada pengantar penulis bahwa sifat emosional (pemarah) merupakan sifat dasar dari penulis, namun penulis menyadari bahwa sifat pemarah yang cenderung destruktif ternyata berdampak negatif untuk tumbuh kembang putrinya yang menjadi tak terkendali dan cenderung mengikuti sifat pemarah dari ibunya. Setelah itu dia bertekad untuk berubah dan melakukan terapi khusus untuk menghilangkan kebiasaan marah. Dan hal itu tidak berjalan dalam waktu singkat, penulis membutuhkan waktu 4 tahun untuk bisa terlepas dari lingkaran “kemarahan” tersebut.                                    

Buku ini tidak menyuruh kita menahan marah secara total. Namun, buku ini mengingatkan kita untuk memilih waktu dan cara yang tepat untuk marah. Bukan marah yang sekedar marah. Karena ternyata sebuah kemarahan yang tidak dikendalikan akhirnya justru akan membawa keburukan.
Marah tidak selamanya salah, marah juga kadang-kadang diperlukan untuk menjadi solusi terhadap suatu masalah yang selanjutnya di dalam buku ini disebut marah positif (hal.10)

Salah satu dampak negatif dari amarah ini adalah ketaatan semu. Banyak orang tua menyangka bahwa marah seakan-akan satu-satunya cara yang efektif untuk mendidik anak, karena dengan menggunakan kemarahan, anak bisa dibuat patuh dan mengikuti perintah orang tua. Orang tua merasa yakin telah menemukan kcara yang tepat untuk mengubah anak menjadi lebih baik.

Padahal, hal ini bisa memicu masalah baru yakni kepatuhan anak-anak itu adalah semu belaka. Anak-anak berpura-pura patuh untuk menghindari efek kemarahan yang lebih besar lagi yang harus ia terima. Maka kepura-puraan itu pasti ada batasnya. Suatu saat, ketika anak sudah merasa kuat untuk membangkang, ketika ada kesempatan luang, atau ketika orang tua sedang tidak memiliki waktu untuk marah, anak punya kesempatan dan keinginan untuk melakukan pembangkangan. (hal.21)

Penulis juga ingin meluruskan persepsi sebagian besar kita bahwa sifat marah bukanlah disebabkan karena keturunan tapi pola asuhnyalah yang memberikan peran terpenting. Pengalaman hidup anaklah yang mengajarkan kepadanya  bagaimana menyalurkan emosi (marah). Baik pola asuh yang terbentuk dari didikan orang tua secara langsung maupun pengaruh lingkungan, tempat tinggal misalnya. Maka saran dari penulis untuk serta merta memilih lingkungan yang baik bagi perkembangan anak.

Potensi karakter yang dimungkinkan menurun tersebut adalah seperti tingkat agresifitas seseorang. Ayah yang agresif bisa menurunkan agresifitasnya kepada anaknya. Namun, perlu diingat bahwa agresif belum tentu berkonotasi negative. Potensi agresif bisa saja diarahkan pada hal-hal postif dan akan menghasilkan prestasi yang luar biasa.(hal.35)

Lagi-lagi Golden Age

Nampaknya memang penulis menaruh perhatian khusus pada masa golden age. Penulis selalu menyediakan ruang khusus untuk masa-masa Golden Age, yakni masa 5 tahun pertama pada anak karena pada masa-masa itulah perkembangan otak anak 80% dari sempurna. Begitu juga di buku-buku sebelumnya. Pembahasan mengenai golden age juga pernah saya bahas di postingan ini.

Dalam buku ini, penulis menjabarkan pemicu kemarahan di usia golden age, diantaranya sifat egosentrisme serta meniru orang lain. Selanjutnya penulis melanjutkannya dengan bagaimana mengawal proses pengendalian marah pada masa-masa tersebut. (51-57)

Setelah membahas satu persatu mengenai pemicu kemarahan tersebut, penulis kemudian memberikan solusi dalam mengendalikan kemarahan dengan memberikan penjelasan tentang bagaimana cara marah yang efektif, serta bagaimana tuntunan marah dalam Islam. Semua dikupas tuntas dalam hal 59-117.

Awalnya saya menyangka bahwa penulis hanya memaparkan kemarahan yang hanya berhubungan dengan kemarahan pada anak. Ternyata saya salah, karena dalam buku ini juga dibahas bagaimana meredakan kemarahan suami istri yang salah satunya dengan mengenal dengan baik-baik karakter pasangan kita masing-masing. Karena tidak bisa dipungkiri kemarahan terhadap anak merupakan dampak dari kondisi hubungan suami istri yang tidak harmonis.
Bukan hanya itu saja, di buku ini juga membahas bagaimana memanajemen kemarahan, baik di tempat kerja maupun di  lingkungan sekolah.

Komplit bukan?
Tidak salah rasanya penulis menambahkan judul pada buku ini dengan “Buku Komplit Manajemen Marah”, karena penulis menjabarkan persoalan “marah” tidak hanya terfokus pada satu sisi.
Contoh-contoh kasus dalam tiap pembahasan yang sangat berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari, semakin memudahkan kita dalam mangambil hikmah dan memahami tiap pembahasan.

Daftar isi

====

Persoalan marah memang penyakit kronik yang mendera sebagian besar kita dan itu semakin jelas pada saat kita memiliki buah hati. Di situlah tingkat kesabaran kita diuji. Tidak salah jika penulis menyediakan ruang yang dominan untuk membahas kemarahan terhadap anak dibanding kemarahan terhadap pasangan ataupun antar rekan sekerja.

Persoalan marah memang berat, apalagi jika kita selaku orang tua “dulunya” tumbuh dengan sentuhan kemarahan yang secara tidak sadar menjadi karakter dari sebagian kita. Tidak salah, Allah menjanjikan ganjaran yang besar bagi seseorang yang mampu mengendalikan amarahnya melalui lisan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ تَغْضَبْ ÙˆَÙ„َÙƒَ الْجَÙ†َّØ©ُ

“Janganlah engkau marah niscaya bagimu syurga”
(hadist shahih, riwayat Ibnu Abid Dunya)

Yah, SYURGA bunda-bunda sekalian… ganjarannya adalah SYURGA…

Selanjutnya, saya sangat merekomendasikan bagi para orang tua untuk memiliki buku ini, karena segala sesuatu itu butuh ilmu. Terutama kita sebagai orang tua, yang memiliki peran untuk mempersiapkan anak-anak kita menjadi generasi penerus yang gemilang. Minimal, generasi yang tidak gampang marah ^_^


Kamis, 25 September 2014

Rich Kids, Belajar Kaya Sejak Dini


Judul Buku : RICH KIDS
Penulis       : Irawati Istadi, Ahmad Gozali
Penerbit     : Pustaka Inti
Cetakan     : Pertama, Februari 2008
ISBN         : 979-3751-49-45
Ketebalan   : 162 halaman
Ukuran       : 14x20 cm
                                 
Buku ini merupakan kolaborasi antara dua orang penulis. Penulis pertama adalah ibu Irawati istadi, seorang penulis sekaligus aktivis pendidikan anak yang menelorkan beberapa buku-buku parenting best seller. Saya juga memiliki salah satu bukunya yakni “Melipatgandakan Kecerdasan Emosi Anak”.

Penulis kedua adalah bapak Ahmad Gozali, seorang pakar perencana keuangan, termasuk mengenai perencenaan keuangan keluarga. Sebuah kolaborasi yang apik untuk sebuah buku yang berbicara tentang masalah keuangan keluarga yang fokus pada pendidikan finansial untuk anak. Bagaiamana pendidikan finansial dibelajarkan sesuai dengan psikologi mereka sebagai anak-anak.

Mengapa usia dini??
Karena pada usia inilah anak mengalami proses pembentukan tercepat dan terbesar, sehingga apa saja yang masuk ke dalam otak akan melekat menjadi batu bata dasar pola pikir mereka hingga dewasa kelak. Jika mereka belajar mengenai konsep-konsep keuangan sejak balita maka hingga dewasa, konsep ini tetap akan tertancap dalam bawah sadar mereka. Orang tua tinggal mengembangkan dan memperkaya pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan usianya. (hal.12)

Buku ini sekaligus mematahkan persepsi sebagian orang tua, dulu saya salah satunya, bahwa tidak perlu terlalu cepat mengenalkan uang pada anak. Padahal, pendidikan finansial perlu ditanamkan sejak dini, sebagaimana kutipan dalam buku ini “Jika kecerdasan finansial diajarkan sejak kecil, otak anak akan terbiasa mengambil kebijakan dalam hal finansial dengan baik. Otak kiri diperlukan untuk menghitung perkiraan keuntungan. Sementara otak kanan ditugaskan berpikir kreatif mengupayakan cara mendapatkan keuntungan finansial tersebut”. (hal.14)

Di awal buku ini, kita dihantar untuk memahami konsep dari kecerdasan finansial dengan sebuah ilustrasi yang bermuara pada pemahaman bahwa kecerdasan finansial tidak melulu tentang perhitungan untung dan rugi, tapi lebih pada bagaimana membuat kebijakan-kebijakan keuangan yang menyangkut sisi-sisi lain dalam kehidupan sehari-hari.

Dan satu hal bahwa kecerdasan finansial tidak selalu sebanding dengan kecerdasan intelektual seseorang. Tidak setiap sarjana atau profesor sekalipun akan sekaligus pandai mengelola keuangan. Sebaliknya, belum tentu orang yang hanya memahami operasi tambah-kurang-kali-bagi saja lantas tak bisa mengelola keuangan.

Dalam buku ini juga disebutkan bahwa pengenalan mengenai finansial dibelajarkan mulai usia 2 tahun secara bertahap :
1.       Pengenalan mengenai fungsi uang sebagai alat tukar
2.       Pemanfaatan uang, dimana si anak harus mampu memanfaatkan uang yang ada dengan efektif
3.  Pembelajaran dalam menentukan pilihan yang sesuai dengan prioritas kebutuhan, memilah antara kebutuhan atau sekedar keinginan
4.       Pembelajaran tentang upaya mendapatkan tambahan uang

Dalam membelajarkan keempat tahapan tersebut, dibarengi dengan pembelajaran kecerdasan emosi untuk anak.

Banyak hal yang kita bisa dapatkan dari buku ini, mulai dari pemahaman kondisi psikologis si anak, bagaimana cara untuk melaksanakan tahapan pembelajaran finansial yang telah disebutkan, tips agar anak suka menabung, pengelolaan uang saku, melatih kepekaan sosial si anak bahwa sesungguhnya harta itu milik Allah,tips untuk meminimalkan “pengeluaran tak terencana” saat berbelanja dengan anak, dan banyak lagi yang lainnya…

Untuk masalah menabung, ada yang menarik. Biasakan si anak menyisihkan uang saku untuk ditabung sebelum berangkat ke sekolah atau sebelum membelanjakannya, bukan setelah pulang sekolah atau  ada sisa dari yang dibelanjakan. Hal ini untuk mengajarkan paradigma menabung yang benar, bahwa menabung bukan menyisakan uang, tapi mengalokasikan pengeluaran yang prioritas untuk kebutuhan di masa yang akan datang (hal.84)

Ini juga sebenarnya harus sudah dilakukan oleh para orang tua, yakni menyisihkan terlebih dahulu alokasi untuk tabungan sebelum membelanjakannya untuk kebutuhan rumah tangga. Bagaimana dengan anggaran keuangan bunda sekalian di rumah, apa sudah demikian?

Akhirnya, buku ini ditutup dengan perlunya merekayasa pendidikan finansial, bahwa perlu ada suasana pendidikan yang sengaja dibangun agar anak mendapatkan pembelajaran terbaik, walaupun  itu mengharuskan mereka sedikit mengalami kesusahan dan kesengsaraan. Anak perlu merasakan beratnya mencari uang, jika ingin menumbuhkan rasa penghargaan mereka terhadap uang. Maka, walaupun orang tua memiliki uang berlimpah, tidak berarti bisa diminta oleh anak kapan saja dan dimanapun mereka inginkan. Jika perlu, beri batasan-batasan, seperti hanya diizinkan membeli mainan sebulan sekali, hanya diberi uang saku yang terbatas agar anak memiliki kemampuan mengelola uang dan menentukan prioritas kebutuhan. (hal.154)

Dan, saya sampai pada kesimpulan bahwa buku ini sangat direkomendasikan bagi orangtua yang ingin memberikan pendidikan finansial sejak dini untuk anak. Bahasa yang digunakan sederhana dan sangat mudah dipahami untuk diterapkan.

Satu hal yang  perlu digaris bawahi dalam hal ini.
Pertama, DISIPLIN… konsisten terhadap pendidikan finansial yang diberikan
Kedua, KETELADANAN, ada pepatah “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Akan terasa janggal jika kita memberikan pengarahan terhadap anak tentang kecerdasan finansial, sementara kita tidak terlihat memiliiki kecerdasan finansial tersebut. Hal ini juga terangkum dalam pembahasan “Mengoreksi Kesalahan Orang Tua” dalam buku ini. (hal.143)

Tidak ada kekurangan yang berarti dalam buku ini, itu mungkin karena saya sangat menikmati isi buku yang disajikan. Masalah EYD, saya sendiri masih banyak kekurangan dalam hal in ^_^
Hanya satu kesalahan yang jelas terlihat yakni pada kalimat terakhir pada pembahasan buku ini.
“Insya Allah, anak akan tumbuh menjadi anak yang”(hal.154)
Sangat jelas kalimatnya terpotong bukan? Tapi saya berpikir hal ini merupakan kesalahan cetak saja. Tapi insya Allah bisa diperbaiki untuk cetakan selanjutnya.








Jumat, 04 April 2014

Reisha si pengusaha Cilik

"Wah keren, kak Marisa Agustina terbitin buku".. jeritku dalam hati sewaktu melihat statusnya wara wiri di beranda facebook.
Suprise banget, ternyata selama ini kak Icha punya bakat menulis fiksi anak.

Saya mengenal kak Icha (panggilan akrab untuk kak Marisa Agustina) sebenarnya belum lama, seniorku di fakultas elektro Unhas yang kutemukan di jejaring sosial (baca: facebook). Kami bertemu di salah satu group kepenulisan, start yang hampir bersamaan, membuat blog, ikutan give away (lomba blog).
Sayangnya setahun terakhir, bisa dikatakan saya tidak begitu aktif lagi di dunia kepenulisan, di group pun hanya numpang lewat saja.
Dan ternyata baru sadar kalau sudah tertinggal cukup jauh dari teman-teman. Beberapa sudah menelorkan buku, sementara diriku masih menghimpun tenaga untuk memulai kembali.

Termasuk diantaranya k Icha, tanpa pikir panjang saya langsung memesan bukunya. Motivasi awal membeli buku ini karena ingin melihat bagaimana talenta kak Icha dalam menulis fiksi anak karena selama ini tahunya tentang tulisan-tulisannya dalam bentuk non fiksi yang dituangkan melalui blog pribadinya.
Ketahuan deh maksudnya...hehehe

Selain itu, tentunya sebagai koleksi bacaan untuk anak-anak.
Akhirnya, buku ini sampai juga di tanganku dengan memesan langsung ke empunya buku, eh plus tanda tangan lagi... Kebayang k icha yang mendadak bak selebritis menandatangani banyak buku..hehehe..

Ternyata bukunya baguuss... Ini sedikit ulasanku tentang buku ini..
"Reisha Pengusaha Cilik", hmm....melihat judulnya... Pemilihan nama nampaknya ga jauh-jauh dari nama penulis sementara tema yang diusung selaras dengan usaha barunya saat ini di bidang kuliner (benar nggak k icha..hehe)

Dari sisi fisik dan pemaparan cerita, nampaknya buku yang berdimensi kurang lebih (14x20x0,7)cm ini ditujukan untuk usia sekolah karena didominasi dengan tulisan dibanding gambar. Bisa dikatakan buku ini disajikan dalam bentuk novel anak *)
Karena itu, anak-anakku yang masih usia pra sekolah malas membacanya dan seperti biasa dirikulah yang menjadi "pendongeng" untuk mereka.

Senang dengan bukunya. Ceritanya mengalir ringan dan "manusiawi", konflik yang disajikan pun rasional untuk usia anak-anak.
Tapi ada yang sedikit mengganjal, Reisha yang digambarkan masih duduk di kelas 1 SD nampaknya terlampau cerdas untuk anak seusianya. Untuk skala keumuman, menurutku sih tepatnya di usia duduk di bangku kelas 3 SD atau setelahnya. Tapi gapapalah, anak-anak sekarang udah cepat berpikiran dewasa...hihi..

Jujur, saya sangat menikmati alur cerita yang disampaikan melalui buku ini. Bagi penikmat fiksi insya Allah mengakui hal ini.
Gadis kecil berjilbab yang memiliki jiwa enterpreneur yang tinggi. Kecil-kecil sudah memiliki bakat sebagai wirausaha dengan menjual puding coklat buatan ibunya. Semangat berwirausahanya ini ternyata menular ke teman lainnya, contohnya si Agil yang digambarkan dalam buku ini sebagai sosok antagonis mendadak jadi pesaing Reisha dengan menjual mainan di kelas (tapi jangan membayangkan sosok antagonis yang di sinetron-sinetron indonesia yah... Yang kadang lebay menggambarkan sosok antagonis pelakunya. Sampai menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya..ckkck)

Sempat terbawa suasana juga sewaktu Reisha pertama kali bertemu ayahnya sepulang berlayar selama berbulan-bulan. Gimanaa gitu.
Dalam buku ini juga digambarkan bagaimana jiwa sosial Reisha terhadap nenek si Pemulung...seorang nenek yang secara tak sengaja bertemu dengan reisha sewaktu bersepeda sepulang sekolah
So far, buku ini insya Allah bagus untuk direkomendasikan ke anak-anak, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil. Memicu semangat berwirausaha anak-anak sejak dini, lika-likunya...bagaimana mengahadapi pesaing dengan akhlak yang baik, serta memupuk jiwa sosial...
Endingnya pun menyenangkan ^_^

Buat teman-teman blogger, silahkan membaca cerita lengkapnya dengan membeli bukunya. Insya Allah hadiah manis untuk anak-anak.

Untuk kak Icha, semoga sukses bukunya laris manis...terus semangat menyajikan karya-karya bermutu untuk anak-anak.
Sudah lama pengen menulis tentang buku ini tapi susahnyaaaaa merangkai kata. Kalau ada kesalahan silahkan dikoreksi ya kak...

*) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku