Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Maret 2014

Pelajaran dari seorang penghafal Al-Qur'an cilik...penyandang disabilitas...

Notifikasi hp ku berbunyi...pertanda ada pesan masuk di salah satu aplikasi messenger. 
Segera kubuka link notifikasinya, rupanya mengarah ke salah satu group chat yang kuikuti.. dan di sana seorang akhwat (baca: saudari seiman) ternyata mengunggah sebuah video. Tak menunggu lama segera kuklik kiriman video tersebut...

Subhanallaaah.... begitu terharu sekaligus malu terhadap diri ini menyaksikan video tersebut...
Video yang mungkin terasa sangat singkat namun cukup untuk menjadi pelajaran, untuk saya dan sahabat sekalian....

Silahkan menyimak


Apa yang sobat blogger rasakan saat menyaksikan video ini.....???
JUJUR saya sangat merasa malu dan terharu... menyaksikan sorang penyandang disabilitas, dengan usia yang masih sangat belia menjadi penghafal Al-Qur'an...

Sesuatu yang dianggap menjadi kekurangan untuk sebagian besar orang, yaitu dicabutnya nikmat penglihatan dari dirinya ternyata malah menjadikannya lebih berSYUKUR dan mengambil hikmah atas apa yang dia alami..

Subhanallah.... anak kecil ini tidak pernah meminta untuk dikembalikan penglihatannya oleh Allah... bahkan dia berharap hal ini akan menjadi hujjah bagi dirinya dihadapan Allah kelak...
Dia tahu betul akan ada saat dimana masing-masing diri akan bersimpuh di hadapan-Nya...mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukan di alam dunia ini...
Begitulah apabila cahaya Al-Qur'an merasuk ke dalam jiwa yang berbuah keimanan...

Tak terasa air mata ini menetes....mengembalikan semuanya kepada diri ini...
Bagaiamana interaksiku terhadap Al-Qur'an???  Sejauh mana diri ini sudah membaca, menghafalkan serta mentadabburi ayat-ayat Al-Qur'an??
Sejauh mana diri ini menjadi hamba yang bersyukur...Bahkan untuk sesuatu yang dianggap sebagai suatu musibah sekalipun...

Ya Allah, berikan kekuatan dan kemudahan bagi kami untuk berinteraksi dengan firman-Mu...
Berilah kekuatan bagi kami untuk bisa mendidik anak-anak kami menjadi penghafal-penghafal Al-Qur'an yang berakhlak Al-Qur'an...
Istiqomahkanlah kami yaa Rabb.. di jalan hidayah..
Dan jadikan penghujung kehidupan kami dalam husnul khaatimah....








Jumat, 28 Februari 2014

Jerih Payah Yang Tiada Sia-sia

 Anak adalah anugrah yang agung. Ia merupakan titipan Allah kepada kita,sekaligus menjadi amanah yang harus kita jaga.

Tugas kita sebagai orang tua,mengasuh dan mendidik anak-anak, mendampingi serta membimbing mereka. Semua itu harus dilakukan dengan mengharapkan pahala di sisi Allah subhaanahu wa ta'aala karena anak adalah aset yang tiada ternilai harganya dan merupakan tabungan dari orang tuanya di akhirat kelak.

Pada saat seluruh amalan telah treputus, saat pahala shalat dan puasa tak lagi bisa kita raih. Di kala itu, do'a anak yang shalih akan bermanfaat bagi kedua orang tuanya.

Demikian ilmu yang bermanfaat yang telah diajarkan kedua orang tua kepada anak-anak mereka akan terus menerus mengalirkan pahala untuk keduanya. Rasulullah shallallaahu 'alaii wasallam bersabda :

"Apabila seorang anak Adam meninggal, maka terputuslah segala amalannya kecuali dari tiga perkara : Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya." (H.R. Muslim)

Segala jerih payah yang ditempuh kedua orang tua dalam membimbing dan mendidik anak-anak mereka hingga menjadi anak-anak yang shalih akan membuahkan hasil dikala mereka terbaring sendiri di alam kubur, ketika tidak bisa lagi beramal, ketika tidak bisa berbuat apa-apa lagi, di kala itulah kita mengharapkan aliran do'a dari anak-anak kita yang shalih. Mengharapkan istighfar mereka (permohonan ampun kepada Allah) untuk kita.

Sebagai orang tua, kita jangan mengeluh dalam mengemban amanah yang mulia ini. Ketahuilah Allah memilih kita sebagai ibu bapak. Berapa banyak orang tua yang tidak mendapatkan amanah ini sementara mereka sangat mengharapkannya.

Maka seharusnya kita bersyukur atas nikmat tersebut. Syukur yang diwujudkan dengan menjaga dan mendidik mereka dengan baik. Mengajarkan mereka untuk cinta kepada Allah dan rasul-Nya. Mencetaknya menjadi anak yang shalih..

Anak shalihlah yang mendoakan dan memohonkan ampunan bagi kita, akan menghajikan kita bila kita tak mampu mengerjakannya, menunaikan nadzar-nadzar kita, melanjutkan karya-karya kita, membersihkan dan mengharumkan nama kita.

Sebagai orang tua kita harus berkorban apa saja agar anak kita dapat tumbuh menjadi anak yang shalih. Anak yang shalih adalah anugrah yang sangat besar yang tidak bisa dinilai dengan materi...!!!

Jumat, 27 Desember 2013

Nak..ini ada uang sepuluh riyal, pergilah ke pasar dan bawakan untuk kita seorang ayah..

Ada sebuah kisah yang sangat indah, yang saya ambil dari buku "Ada Surga di Rumahku" -penulis, Dr. Nashir Sulaiman Al-Umar-. Kisah ini berisi tentang seorang istri yang memuliakan kedudukan suaminya dan menanamkannya di dalam jiwa anak-anaknya. 

Kisah ini diperoleh dari seorang temannya. Ia menuturkan , "Dahulu aku mempunyai sebuah radio kecil, aku menyembunyikannya dari jangkauan ayahku". Ayahnya -semoga Allah merahmatinya- adalah termasuk orang yang zuhud dan wara' (berhati-hati terhadap hal-hal yang syubhat). Ibunya adalah seorang wanita shalihah. Seorang wanita  shalihah dan hafal Al-Qur'an, ia biasa mengisi pengajian kaum hawa dan telah meninggal -semoga Allah merahmatinya-, sedangkan ayahnya meninggal beberapa tahun sebelumnya.
Ia melanjutkan, "Namun, akhirnya ayahku menemukan radio itu, maka beliau memecahkannya." Ia bercerita,"Ketika beliau memecahkan radio itu, aku masih sangat muda, sekitar umur sepuluh tahun. Aku sangat marah dan aku banyak mengumpat akan kerusakan itu. Hal itu saya lakuka setelah ayah pergi." Ia kembali menuturkan, "Aku tidak berani berbicara kepada ayahku".
Akhirnya dia mengadukan kepada ibunya. Ia mengatakan sendiri di hadapan ibunya, sembari mencela ayahnya. Apa yang dilakukan ibunya? Anak itu bercerita,"Aku merasa tidak tenang kecuali setelah ibuku datang dengan membawa oleh-oleh kurma yang beliau beli dari pasar dan beliau juga membawa uang sepuluh riyal".

Sambil memberi oleh-oleh ibuku berkata,"Anakku, tenanglah, ini ada oleh-oleh, dan ini ada uang sepuluh riyal. Pergilah ke pasar dan bawakanlah untuk kita seorang ayah, kita tidak membutuhkan ayahmu lagi setelah hari ini. Karena ia telah memecahkan radiomu. Pergilah ke pasar dan belilah untuk kita seorang ayah dengan sepuluh riyal ini."

Ia berkata, "Aku bertanya kepada ibuku,"Wahai ibuku! Apakah ayah itu diperjualbelikan?" Aku berkata,"Aku tidak mau , karena ayah tidak diperdagangkan,". Sang ibu berkata,"Baiklah, jika tidak diperjualbelikan, lalu mengapa engkau mengumpat ayahmu karena perkara ini?! ia berkata,"Aku begitu menyesali perbuatanku, dan sejak hari itu aku begitu menghormati ayahku".

Ia melanjutkan ceritanya,"Sejak saat itu ayah memiliki kewibawaan dan kemuliaan, baik ketika masih hidup maupun sesudah wafatnya. Aku tidak pernah berperilaku tidak sopan kepadanya. Hingga suatu ketika ibu berkata kepadaku, "Anakku, tidaklah engkau mendapati ayah yang demikian kecuali seorang saja".

Silahkan menarik hikmah dari kisah diatas. Bagiku..ini kisah yang sangat indah..bagaimana seorang ibu mendidik anaknya dengan cerdas sehingga melahirkan anak yang patuh kepada kedua orang tuanya hingga mereka meninngal dunia.

gambar: http://alqiyamah.files.wordpress.com/2010/03/zakat3.jpg



Sabtu, 07 Desember 2013

Ibuku sayang (balasan dari surat sang ibu)

Kepada yg tercinta, bundaku yg kusayang
Segala puji bagi Allah… yg telah memuliakan kedudukan kedua orang tua, dan telah menjadikan mereka berdua sebagai pintu tengah menuju surga.
Shalawat serta salam hamba -yg lemah ini- panjatkan keharibaan Nabi yg mulia, keluarga serta para sahabatnya hingga hari kiamat. Amin…

Ibu…
Aku terima suratmu yg engkau tulis dg tetesan air mata dan duka… aku telah membaca semuanya… tidak ada satu huruf pun yg aku sisakan.
Tapi tahukah engkau, wahai Ibu… bahwa aku membacanya semenjak shalat Isya'… Semenjak sholat isya'… aku duduk di pintu kamar, aku buka surat yg engkau tuliskan untukku… dan aku baru selesaikan membacanya setelah ayam berkokok… setelah fajar terbit dan adzan pertama telah dikumandangkan…
Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut, jika ditaruhkan di atas batu, tentu ia akan pecah… Jika engkau letakkan di atas daun yg hijau, tentu dia akan kering…

Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut tidak akan tertelan oleh ayam… Sebenarnya, wahai ibu, suratmu itu bagiku bagaikan petir kemurkaan, yg jika dipecutkan ke pohon yg besar, dia akan rebah dan terbakar…
Suratmu wahai ibu, bagaikan awan Kaum Tsamud, yg datang berarak dan telah siap dimuntahkan kepadaku…

Ibu…
Aku telah baca suratmu, sedangkan air mataku tidak pernah berhenti!! Bagaimana tidak… Jika surat itu ditulis oleh seorang yg bukan ibu dan bukan ditujukan pula kepadaku, layaklah orang yg paling bebal, untuk menangis sejadi-jadinya… Bagaimana kiranya, jika yg menulis itu adalah ibuku sendiri… dan surat itu ditujukan untukku sendiri…

Sungguh aku sering membaca kisah sedih, tidak terasa bantal yg dijadikan tempat bersandar telah basah karena air mata… Bagaimana pula dg surat yg ibu tulis itu!? bukan cerita yg ibu karang, atau sebuah drama yg ibu perankan, akan tetapi dia adalah kenyataan hidup yg ibu rasakan.

Ibuku yg kusayangi…
Sungguh berat cobaanmu… sungguh malang penderitaanmu… semua yg engkau telah sebutkan benar adanya…
Aku masih ingat ketika engkau ditinggalkan ayah pada masa engkau hamil tua mengandung adikku. Ayah pergi entah kemana tanpa meninggalkan uang belanja, jadilah engkau mencari apa yg dapat dimasak di sekitar rumah dari dedaunan dan tumbuhan.
Dg jalan berat engkau melangkah ke kedai untuk membeli ala kadarnya, sambil engkau membisikkan kepada penjual bahwa apa yg engkau ambil tersebut adalah hutang… hutang… yg engkau sendiri tidak tahu, kapan engkau akan dapat melunasinya…

Ibu…
Aku masih ingat ketika kami anak-anakmu menangis untuk dibuatkan makanan, engkau tiba-tiba menggapai atap dapur untuk mengambil kerak nasi yg telah lama engkau jemur dan keringkan…
Tidak jarang pula engkau simpan untukku sepulang sekolah tumbung kelapa, hanya untuk melihat aku mengambilnya dg segera.
Aku masih ingat… engkau sengaja ambilkan air didih dari nasi yg sedang dimasak, ketika engkau temukan aku dalam keadaan sakit demam.

Ibu…
maafkanlah anakmu ini… aku tahu bahwa semenjak engkau gadis, sebagaimana yg diceritakan oleh nenek sampai engkau telah tua seperti sekarang ini, engkau belum pernah mengecap kebahagiaan.
Duniamu hanya rumah serta halamannya, kehidupanmu hanya dg anak-anakmu… Belum pernah aku melihat engkau tertawa bahagia, kecuali ketika kami anak-anakmu datang ziarah kepadamu. Selain dari itu, tidak ada kebahagiaan… Semua hidupmu adalah perjuangan. Semua hari-harimu adalah pengorbanan

Ibu…
Maafkan anakmu ini! Semenjak engkau pilihkan untukku seorang istri, wanita yg telah engkau puji sifat dan akhlaknya… yg engkau telah sanjung pula suku dan negerinya! Semenjak itu pula aku seakan-akan lupa deganmu…

Wahai ibu…
Keberadaan dia sebagai istriku telah membuatku lupa posisi engkau sebagai ibuku… senyuman dan sapaannya telah melupakanku dg himbauanmu.
Ibu… aku tidak menyalahkan wanita pilihanmu tersebut, karena kewajibannya untuk menunaikan tanggung-jawabnya sebagai istri… Aku berharap pada permasalahan ini, engkau tidak membawa-bawa namanya, dan mengaitkan kedurhakaanku kepadamu karenanya… Karena selama ini, di mataku dia adalah istri yg baik, istri yg telah berupaya berbuat banyak untuk suami dan anak-anaknya… Istri yg selalu menyuruh untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ibu…
Ketika seorang laki-laki menikah dg seorang wanita, maka seolah-olah dia telah mendapatkan permainan baru, seperti anak kecil mendapatkan boneka atau orang-orangan. Maafkan aku ibu…
Aku tidaklah membela diriku, karena dari awal dan akhir pembicaraan ini kesalahan ada padaku, anakmu ini… Akan tetapi aku ingin menerangkan keadaan yg aku alami, perubahan suasana setelah engkau dan aku berpisah, tidak satu atap lagi…

Ibu…
Perkawinanku membuatku masuk ke alam dunia baru… dunia yg selama ini tidak pernah aku kenal… dunia yg hanya ada aku, istri dan anak-anakku… Bagaimana tidak, istri yg baik, anak-anak yg lucu-lucu! Maafkan aku Ibu… Maafkan aku anakmu… aku merasa dunia hanya milik kami, aku tidak peduli dg keadaan orang yg penting bagiku… yg penting bagiku adalah keadaan mereka: anak-anak dan istriku…

Ibu…
Maafkan aku, anakmu… Ampunkan aku, anakmu… Aku telah lalai… aku telah alpa… aku telah lupa… aku telah menyia-nyiakanmu…
Aku pernah mendengar kajian, bahwa orang tua difitrahkan untuk cinta kepada anaknya, akan tetapi anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya… Oleh sebab itu, dilarang mencintai anak secara berlebihan, sebagaimana anak dilarang berbuat durhaka kepada orang tuanya… Itulah yg terjadi pada diriku, wahai Ibu!!
Aku pasti akan gila ketika melihat anakku sakit… Aku seperti orang kebingungan ketika melihat anakku diare… Tapi itu sulit, aku rasakan jika hal itu terjadi padamu wahai ibu… Itu sulit aku rasakan, jika seandainya hal itu terjadi pada ibu, dan pada ayah…

Ibu…
Sulit aku merasakan perasaanmu…
Kalaulah bukan karena bimbingan agama yg telah engkau talqinkan kepadaku, tentu aku telah seperti kebanyakan anak-anak yg durhaka kepada orang tuanya!!
Kalaulah bukan karena baktimu pula kepada orang tuamu dan orang tua ayahmu, niscaya aku tidak akan pernah mengenal arti bakti kepada orang tua.
Setelah suratmu datang, baru aku mengerti… Karena selama ini hal itu tidak pernah engkau ungkapkan, semuanya engkau simpan dalam-dalam seperti semua permasalahan berat, yg engkau hadapi selama ini.
Sekarang baru aku mengerti, wahai ibu… bahwa hari yg sulit bagi seorang ibu, adalah hari di mana anak laki-lakinya telah menikah dg seorang wanita… wanita yg telah mendapat keberuntungan…
Bagaimana tidak… Dia dapatkan seorang laki-laki yg telah matang pribadinya dan matang ekonominya, dari seorang ibu yg telah letih membesarkannya… Dari hidup ibu itulah ia dapatkan kematangan jiwa, dan dari uang ibu itu pulalah ia dapatkan kematangan ekonomi… Sekarang, -dg ikhlas- ia berikan kepada seorang wanita yg tidak ada hubungan denganya, kecuali hubungan dua wanita yg saling berebut perhatian seorang laik-laki… Dia sebagai anak dari ibunya dan dia sebagai suami dari istrinya.

Ibuku sayang…
Maafkan aku… Ampunkan diriku… Satu tetesan air matamu adalah lautan api neraka bagiku… Janganlah engkau menangis lagi, janganlah engkau berduka lagi!… Karena duka dan tangismu menambah dalam jatuhku ke dalam api neraka!! Aku takut Ibu…
Kalau itu pula yg akan kuperoleh… kalau neraka pula yg akan aku dapatkan… ijinkan aku membuang semua kebahagiaanku selama ini, hanya demi untuk dapat menyeka air matamu…
Kalau engkau masih akan murka kepadaku, izinkan aku datang kepadamu membawa segala yg aku miliki lalu menyerahkannya kepadamu, lalu terserah engkau… terserah engkau, mau engkau buat apa…
Sungguh ibu, dari hati aku katakan, aku tidak mau masuk neraka, sekalipun aku memiliki kekuasaan Firaun… kekayaan Karun… dan keahlian Haman… Niscaya aku tidak akan tukar dg kesengsaraan di akhirat sekalipun sesaat… Siapa pula yg tahan dg azab neraka, wahai Bunda… maafkan aku anakmu, wahai ibu!!

Adapun sebutanmu tentang keluhan dan pengaduan kepada Allah ta'ala, bahwa engkau belum mau mengangkatnya ke langit… bahwa engkau belum mau berdoa kepada Alloh akan kedurhakaanku… Maka, ampun, wahai Ibu!!
Kalaulah itu yg terjadi… dan do'a itu tersampaikan ke langit! Salah pula ucapan lisanmu!! Apalah jadinya nanti diriku… Apalah jadinya nanti diriku… Tentu aku akan menjadi tunggul yg tumbang disambar petir… apalah gunanya kemegahan, sekiranya engkau do'akan atasku kebinasaan, tentu aku akan menjadi pohon yg tidak berakar ke bumi dan dahannya tidak bisa sampai ke langit, di tengahnya dimakan kumbang pula…
Kalaulah do'amu terucap atasku, wahai bunda… maka, tidak ada lagi gunanya hidup… tidak ada lagi gunanya kekayaan, tidak ada lagi gunanya banyak pergaulan…
Ibu dalam sepanjang sejarah anak manusia yg kubaca, tidak ada yg bahagia setelah kena kutuk orang tuanya. Itu di dunia, maka aku tidak dapat bayangkan bagaimana nasibnya di akherat, tentu ia lebih sengsara…

Ibu…
Setelah membaca suratmu, baru aku menyadari kekhilafan, kealfaan dan kelalaianku.
Ibu… Suratmu akan kujadikan "jimat" dalam hidupku… setiap kali aku lalai dalam asberkhidmat kepadamu akan aku baca ulang kembali… tiap kali aku lengah darimu akan kutalqinkan diriku dengannya… Akan kusimpan dalam lubuk hatiku, sebelum aku menyimpannya dalam kotak wasiatku… Akan aku sampaikan kepada anak keturunanku, bahwa ayah mereka dahulu pernah lalai di dalam berbakti, lalu ia sadar dan kembali kepada kebenaran… ayah mereka pernah berbuat salah, sehingga ia telah menyakiti hati orang yg seharusnya ia cintai, lalu ia kembali kepada petunjuk.

Bunda…
Tua… engkau berbicara tentang tua, wahai bunda…?! siapa yg tidak mengalami ketuaan, wahai ibu!!
Burung elang yg terbang di angkasa, tidak pernah bermain kecuali di tempat yg tinggi… suatu saat nanti dia akan jatuh jua, dikejar, dan diperebutkan oleh burung-burung kecil.
Singa, si raja hutan yg selalu memangsa, jika telah tiba tua, dia akan dikejar-kejar oleh anjing kecil tanpa ada perlawanan… Tidak ada kekuasaan yg kekal, tidak ada kekayaan yg abadi, yg tersisa hanya amal baik atau amal buruk yg akan dipertanggungjawabkan.

Ibu…
Do'akan anakmu ini, agar menjadi anak yg berbakti kepadamu, di masa banyak anak yg durhaka kepada orang tuanya… Angkatlah ke langit munajatmu untukku, agar aku akan memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akherat.

Ibu…
sesampainya suratku ini, insya Allah tidak akan ada lagi air mata yg jatuh karena ulah anakmu… setelah ini tidak ada lagi kejauhan antaraku denganmu…
bahagiamu adalah bahagiaku… kesedihanmu adalah kesedihanku… senyumanmu adalah senyumanku… tangismu adalah tangisku…
Aku berjanji, untuk selalu berbakti kepadamu buat selamanya, dan aku berharap agar aku dapat membahagiakanmu selagi mataku masih bisa berkedip… maka bahagiakanlah dirimu… buanglah segala kesedihan, cobalah tersenyum… Ini kami… aku, istri, dan anak-anak sedang bersiap-siap untuk bersimpuh di hadapanmu, mencium tanganmu.
Salam hangat dari anakmu yg durhaka…
(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh-)

www.addariny.wordpress.com
gambar: http://alqiyamah.files.wordpress.com/2010/03/surat.jpg

Selasa, 03 Desember 2013

Harga Sebuah Keimanan


Memiliki kawan sejati yang biasa disebut sahabat, dan orang tua tercinta yang selalu memberi apa yang diminta adalah kenikmatan.

Juga kenikmatan ketika dianugrahi pasangan hidup yang baik hati, anak yang menyejukkan pandangan, rumah, kendaraan, pekerjaan mapan, semuanya patut disyukuri. dan masih banyak nikmat lainnya yang tak mampu tertuliskan satu demi satu.

Ternyata pula, nikmat-nikmat yang diuraikan tadi, Allah juga memberikan kepada orang yang ogah-ogahan shalat, enggan membaca Al-Qur'an, pembakhil harta, dan pelaku kemaksiatan lainnya.


Hingga pada orang kafir pun, Allah juga memberi kenikmatan. Fir'aun, orang yang paling kafir sepanjang peradaban manusia, toh Allah juga memberi jabatan tinggi di masyarakat saat itu.

kadangkala "kebalikannya"; kepada orang yang rajib shalat, gemar membaca Al-Qur'an, suka menolong, ternyata kehidupannya melarat, masalahpun kerap mendera,.

Lalu pantaskah Allah dikatakan tidak adil dalam memberi  kenikmatan kepada manusia di dunia ini?

Tidak, kawan! Justru kesenangan dunia boleh jadi menjadi ujian, apa dengannya manusia bersyukur atau malah melupakan Allah. karena ujian terbesar sebenarnya ujian hawa nafsu.

Hawa nafsu yang getol diperturutkan, hingga tanpa sadar, hawa nafsu menjadi sesembahannya. Wal'iyadzu billah..

Sadarkah kita, adakah yang melebihi nilainya dari sekedar uraian nikmat di atas tadi yang anggaplah dinamai nikmat kehidupan?

Ya, tentu saja kawan! Dialah nikmat keimanan, yang semestinya sangat disyukurii. Apalah artinya nikmat kehidupan jika tak bersanding dengan nikmat keimanan, meski rasa iman tak bisa diindera.

Bahkan, dengan nikmat keimanan, seseorang mampu mengorbankan  dunianya demi mendapat kecintaan Allah.

bacalah sejarah, bagaimana syahidah pertama, Sumayyah yang rela mengorbankan jasadnya demi memepertahankan keimanannya, juga sahabat muhajirin yang rela mengorbankan hartnaya untuk hijrah ke madinah., menuju perintah Allah demi mempertahankan iman di dada, dan sederet kisah kepahlawanan sejati dari salafushshalih yang begitu menghargai keimanan.sehingga keimanan adalah puncak kebahagiaan di dunia ini.
Allah anugrahan kepada orang yang dikehendaki-Nya.

Namun begitu, tak jemunya Nabi Ibrahim meminta setelah dikaruniakan Ismail dan Ishaq dalam penantian yang sangat lama dengan do'a

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, Ya Tuhan Kami perkenankanlah do'aku" (Q.S. Ibrahim:40)

Subhanallah, Nabi Ibrahim tidak meminta agar anaknya berlimpah harta, atau memiliki martabat di masyarakat.

Juga sang baginda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam, pemimpin orang beriman dan paling tinggi keimanannya memanjatkan do'a :

"yaa muqallibal quluub tsabbit qalbii 'alaa diinik, yaa musarrifal quluub tsabbit qolbii 'alaa tho'atk"

Keimanan adalah nikmat terbesar dalam nikmat kehidaupan ini. Disyukuri dengan mengejawantahkan iman dalam amalan shalih, meski keimanan itu akan selalu teruji.

Tapi begitulah cara Allah, agar kita kian menghargai keimanan.



Sumber : Majalah "Al-Firdaus edisi 7 2011

Senin, 02 Desember 2013

Jejak hati menuju Allah

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang
Perjalanan menuju Allah Ta'aala
Perjalanan yang kelak hanya menyisakan dua pilihan saja.
Tidak ada yang lain. Keselamatan atau kebiasaan.
Surga atau neraka.

Seringkali bahkan terasa sangat berat.
Hingga di simpang jalannya kite berhenti dan diam.
Dalam hati kita berbisik, haruskah kuhentikan perjalanan ini?
Duhai, andai saja itu bisa kita lakukan, sahabat.
Tapi sayang,. engkau dan aku terlalu mengetahui bahwa ini
bukanlah permainan komidi putar yang dengan mudah meminta untuk dihentikan.

Disini...di perjalanan ini, sekali engkau berjalan
maka pilihannya hanya dua; 
menyelesaikannya dengan baik (husnul khatimah)
atau kehancuran akan menyambutmu (su'ul khatimah)

Di perjalanan ini,kita adalah para pelaut,
yang ketika usai mengembangkan layar kapalnya
lalu mengepalkan tinjunya seraya berteriak.
"Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai"


Begitulah...
Perjalanan ini adalah perjalanan dalam gelap





Ditulis ulang dari majalah Islamy no.2 tahun 1/1426 H





Selasa, 12 November 2013

Wahai anakku (surat seorang ibu kepada anaknya)

Untuk anakku yang ku sayangi di bumi Alloh ta'ala
Segala puji ku panjatkan ke hadirat Alloh ta'ala, yang telah memudahkan ibu untuk beribadah kepada-Nya.
Sholawat serta salam, ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, keluarga, dan para sahabatnya.
 
Wahai anakku…
surat ini datang dari ibumu, yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang, ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri ini.
Setiap kali menulis, setiap itu pula gores tulisan ini terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula, hati ini terluka.
Wahai anakku…
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak. Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau akan remas kertas ini, lalu engkau robek-robek, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan telah engkau robek pula perasaannya.

Wahai anakku…
25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.
Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu sangat mengerti arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu.
 
Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri, makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
 
Aku mengandungmu wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu, atau balikan badanmu di perutku.
 
Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila semakin hari semakin berat perutku, berarti dengan begitu engkau sehat wal afiat di dalam rahimku.
 
Anakku…
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada malam itu, yang aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan, dan merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula, aku melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia, dan engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu.
 
Ketika engkau lahir, menetes air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit.
Aku raih dirimu, sebelum ku raih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkongan.
 
Wahai anakku…
Telah berlalu setahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku, kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur, demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat, adalah setiap permintaanmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku.
 
Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, selama itu pula, aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai… menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti… menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah… dan mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
 
Aku selau memperhatikan dirimu, hari demi hari, hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu, wahai anakku…
Tatkala itu, aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan, demi mencari pasangan hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat pula hari kepergianmu.
 
Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula dengan tawa.
 
Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan… karena engkau telah mendapatkan jodoh… karena engkau telah mendapatkan pendamping hidup… Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hatiku, yang akan berpisah sebentar lagi dari diriku.
 
Waktu pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya dengan berat, kiranya setelah perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu.
 
Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran, aku benar-benar tidak mengenalmu lagi, karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
 
Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya untuk melihat rupamu. Detik demi detik ku hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi penantianku seakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
 
Akan tetapi semua itu tidak ada, penantianku sia-sia, dan harapanku hancur berkeping. Yang ada hanya keputus-asaan… Yang tersisa hanya kesedihan dari semua keletihan yang selama ini ku rasakan, sambil menangisi diri dan nasib yang memang ditakdirkan oleh-Nya.
 
Anakku…

Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan.
Yang ibu pinta kepadamu:
Jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.
Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan ibumu.
Jangan engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak memandang wajahmu.
Yang ibu tagih kepadamu:
Jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya sedetik.
Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi. Atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.
 
Anakku…
Telah bungkuk pula punggungku… bergemetar tanganku… karena badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit… Berdirinya seharusnya telah dipapah… duduk pun seharusnya dibopong…
Akan tetapi, yang tidak pernah sirna -wahai anakku- adalah cintaku kepadamu… masih seperti dulu… masih seperti lautan yang tidak pernah kering… masih seperti angin yang tidak pernah berhenti…
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas budimu, mana balasan baikmu?! bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?! bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?! Dan bukankah Alloh ta'ala, telah berfirman:
 
هل جزاء الإحسان إلا الإحسان
Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!
Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu.
 
Wahai anakku…
Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak?! Karena engkau adalah buah dari kedua tanganku… Engkau adalah hasil dari keletihanku… Engkaulah laba dari semua usahaku…
 
Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!
Pernahkah suatu hari aku salah dalam bergaul denganmu?!
Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?!
Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina dari sekian banyak pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?!
Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu?!
Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang demi mengobati derita orang tua yang malang ini?!
إن الله يحب المحسنين
Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik.
 
Wahai anakku…
Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.
 
Wahai anakku…
Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau adalah laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi.
 
Wahai anakku…
Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan?!
Mengapa? Tahukah engkau itu?! Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… Karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… Karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim.
 
Wahai anakku…
Ibumu inilah sebenarnya pintu surga, maka titilah jembatan itu menujunya… Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, kemaafan, dan balas budi yang baik… Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan kasih sayang Alloh ta'ala sebagaimana di dalam hadits:
 
الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه


Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan oleh Albani)
 
Anakku…
Aku mengenalmu sejak dahulu… semenjak engkau telah beranjak dewasa… aku tahu engkau sangat tamak dengan pahala… engkau selalu cerita tentang keuatamaan berjamaah… engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shof pertama dalam sholat berjamaah… engkau selalu mengatakan tentang keutamaan infak, dan bersedekah…
 
Akan tetapi satu hadits yang telah engkau lupakan… satu keutamaan besar yang telah engkau lalaikan… yaitu bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas'ud, ia mengatakan:
 
سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: يا رسول الله أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة على ميقاتها. قلت: ثم أيُّ؟ قال: ثم بر الوالدين. قلت: ثم أيُّ؟ قال: الجهاد في سبيل الله. فسكت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو استزدته لزادني. (متفق عليه)
 
Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa yang paling mulia? Beliau menjawab: sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Lalu aku pun diam (tidak bertanya) kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi, dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.
Itulah hadits Abdulloh bin Mas'ud…
 
Wahai anakku…
Inilah aku, ibumu… pahalamu… tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak dan bersedekah… aku inilah pahalamu…
Pernahkah engkau mendengar, seorang suami yang meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri seberang, ke negeri entah berantah untuk mencari tambang emas, guna menghidupi keluarganya?! Dia salami satu persatu, dia ciumi isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan: Ayah kalian, wahai anak-anakku, akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah akan mencari emas… Rumah kita yang reot ini, jagalah… Ibu kalian yang tua renta ini, jagalah…
 
Berangkatlah suami tersebut, suami yang berharap pergi jauh, untuk mendapatkan emas, guna membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana mengganti rumah reotnya.
 
Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam usahanya. Pulanglah ia kembali ke kampungnya. Dan sampailah ia ke tempat dusun yang selama ini ia tinggal.
 
Apa lagi yang terjadi di tempat itu, setibanya di lokasi rumahnya, matanya terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang ditempati oleh anak-anak dan keluarganya. Akan tetapi dia melihat, sebuah perusahaan besar, tambang emas yang besar. Jadi ia mencari emas jauh di negeri orang, kiranya orang mencari emas dekat di tempat ia tinggal.
 
Itulah perumpaanmu dengan kebaikan, wahai anakku…
Engkau berletih mencari pahala… engkau telah beramal banyak… tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar… di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu masuk surga…
Ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk surga, atau mempercepat amalmu masuk surga… Bukankah ridloku adalah keridloan Alloh?! Dan bukankan murkaku adalah kemurkaan Alloh?!
 
Anakku…
Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- di dalam haditsnya:
 
رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه قيل من يا رسول الله قال من أدرك والديه عند الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة (رواه مسلم)
 
Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah seseorang! Ada yang bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Dialah orang yang mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya, akan tetapi tidak membuat dia masuk surga. (HR. Muslim 2551)
 
Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya, hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan dia ke surga.
 
Anakku…
Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…
 
Aku tidak akan melakukannya wahai anakku… tidak… bagaimana aku akan melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku… bagaimana ibu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku… bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku…
 
Bangunlah nak… bangunlah… bangkitlah nak… bangkitlah… uban-uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula.
 
الجزاء من جنس العمل

Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan berbuat kepadamu.
 
الجزاء من جنس العمل
 
Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan. Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.
Aku tidak ingin engkau menulis surat ini… aku tidak ingin engkau menulis surat yang sama, dengan air matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana aku telah menulisnya kepadamu.
 
Wahai anakmu…
bertakwalah kepada Alloh… takutlah engkau kepada Alloh… berbaktilah kepada ibumu… peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di kakinya… basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya… kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan badannya yang telah lapuk…

Anakku…
setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu. Apakah engkau sadar dan engkau akan kembali, atau engkau akan merobeknya.
Wa shollallohu ala nabiyyina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Dari Ibumu yang merana.

(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh- dan akan disambung dengan jawaban si anak kepada sang ibu)

www.addariny.wordpress.com
gambar: http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:TLFXBoyA1ilAHM

Senin, 11 November 2013

Belajar Dari Si Kecil

Ungkapan hati seorang ummi ...

Mungkin ada yang menganggap judul di atas terlalu berlebihan atau bahkan terbalik. Bukan kita (orang tua) yang belajar dari anak, tetapi anaklah yang belajar dari kita. Namun lewat judul di atas saya ingin mengungkapkan sisi indah yang saya dapatkan dari kehadiran anak, yang lewatnya saya belajar banyak hal. Sisi indah yang acap terlupakan ketika buah hati kita bertambah banyak plus bertambah 'menjengkelkan'. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menyirami kepenatan dan kebosanan di tengah tugas rutin harian kita sebagai seorang ibu.
 Terkadang, kita menganggap bayi adalah makhluk kecil yang tak berdaya. Namun kalau kita renungi ternyata bayi kita telah “mengajarkan” ibunya banyak hal. Dalam suatu majalah berbahasa Jepang seorang bidan yang berpengalaman menolong banyak persalinan mengatakan bahwa mempunyai anak adalah jalan untuk menjadi orang dewasa yang sesungguhnya. Mungkin ada benarnya. Paling tidak, itu terjadi pada diri saya. Rasa terima kasih yang berlipat, ingin berbakti, saya ketika saya hamil dan melahirkan. Rasa mual ketika mengidam, harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan perut besar, rasa sakit luar biasa ketika kontraksi jelang melahirkan mengingatkan saya bahwa ibu saya mengalami hal serupa ketika mengandung dan melahirkan saya. Suatu perasaan yang sangat tipis saya miliki sebelumnya.

Rasa syukur saya kepada Allah dan rasa terima kasih saya pada ibu menumpuk karena beliau telah 'mau' melahirkan saya ke dunia. Jasa yang sangat besar di kala jaman kini banyak mereka yang tak menginginkan kelahiran anaknya dengan menggugurkan janin yang dikandungnya. Ditambah lagi jasa ibu membesarkan saya hingga saya dewasa di tengah-tengah ekonomi yang sulit, tanpa pembantu, tanpa alat-alat rumah tangga elektronik. Di saat ada juga orang yang membuang bayinya karena alasan ketidaksiapan dan kemiskinan. Rasa terima kasih yang telah mengalahkan kekesalan dan ketidakikhlasan terpendam atas ketidaksempurnaan seorang manusia pada diri ibu. Sekaligus mengingatkan saya untuk lebih berbakti pada sosok yang sekarang semakin tua itu. Ini hal yang paling mendalam yang saya dapatkan dari anak saya.

Menjadi orang dewasa yang sebenarnya saya pikir dirasakan juga oleh mereka yang telah menjadi orang tua atau baru akan menjadi orang tua. Sudah banyak contoh para suami yang sebelumnya tak toleransi pada pekerjaan berat rumah tangga istrinya menjadi lebih peka dan mau membantu pekerjaan rumah tangga (yang tak pernah punya kompromi cuti) saat sang istri hamil. Berapa banyak calon ayah atau ayah yang tergugah tanggungjawabnya sebagai tiang utama dalam nafkah keluarga dan pelindung keluarganya ketika mengetahui istrinya mengandung atau saat menatap wajah si kecil tertidur.

Anak juga mengajarkan point penting lain dalam kehidupan saya. Lewat begadang di tengah malam karena terbangun oleh tangisan si kecil yang minta susu, atau popoknya basah oleh pipis atau 'e'e, anak saya mengajarkan kebahagiaan kecil lewat memberi dengan tulus dan rasa cinta. Jangan pikir saya tak menggerutu dan agak malas untuk bangun karena saya masih mengantuk. Sering kali saya (dan banyak ibu lainnya) baru tidur kurang dari satu jam, dan tentu saja saya bukan malaikat yang terus menerus bisa berlapang dada. Namun, semua rasa ini terbang entah kemana ketika saya menatap wajah si kecil yang tertidur dengan ekspresi puas karena kenyang minum ASI dan (atau) bersih popoknya. Rasa yang dulu tidak saya dapatkan ketika harus begadang untuk eksperimen karena harus mengejar data, meski sebagus apapun data yang telah saya peroleh. Rasa yang membuat saya tak jera untuk dibangunkan di tengah malam. Saya benar berharap, rasa bahagia dalam memberi dengan ketulusan dan kecintaan bisa saya tularkan juga kepada hal-hal lainnya dan orang lain dalam hidup saya.

Anak juga mengajarkan saya untuk menghargai saat-saat yang terlihat remeh namun teramat penting dan indah. Saat saya menyusui sambil mengangguk-angguk karena mengantuk, si kecil menatap saya dan tertawa. Padahal kemarin malam dia hanya menatap saya dengan mata bulatnya, sekarang dia sudah bisa tertawa. Duhai, betapa Allah telah memberi saya momen-momen kecil yang tampak biasa namun bisa menghangatkan mata (dan jiwa) saya dengan air mata bahagia. Momen perkembangan si kecil yang hanya bisa saya nikmati pendek saja dalam perjalanan membesarkannya.

Saya juga teringat, dulu saya sering tersenyum geli ketika bercakap-cakap dengan anak-anak kawan-kawan dekat saya. Karena saya sering menemui lagak dan gaya bicara mereka yang sama persis dengan ibunya. Ya, karena anak-anak ternyata tumbuh dan besar dengan menjadikan kita, ibunya, sebagai contoh. Contoh yang baik sekaligus yang buruk. Karena itu anak adalah cermin bagi saya. Lewatnya saya dapat berkaca sosok yang bagaimanakah yang sudah saya tampilkan padanya dan ditirunya. Kadang, anak juga mengingatkan kepada kita dalam bentuk bertanya. Karena anak adalah polos dan murni. Mereka akan mempertanyakan ketika kita alpa melakukan apa yang telah kita nasihatkan kepada mereka. Kehadiran anak telah mendorong saya untuk mau berusaha menjadi sosok yang lebih baik, sehingga saya tidak akan malu untuk bercermin pada mereka.

Sungguh, sebagai seorang ibu rasanya saya harus berterima kasih pada anak, bukan sebaliknya. Lewat kehadirannya saya disadarkan dan diingatkan oleh banyak hal yang kerap terlupakan. Mudah-mudahan ini dirasakan pula oleh para ibu lainnya. Semoga, ketika anak kita bertambah, semakin dewasa dan bijaklah kita, karena “guru” kita bertambah banyak. Semoga ketika anak kita bertambah besar kita juga telah belajar banyak hal yang mungkin tidak sebanding dengan yang telah kita, sebagai ibunya, telah berikan.(Ya Allah terima kasih krn Engkau menitipkan 2 jundi kecil pd hamba-Mu yg lemah ini bantulah aku merawat dan mendidik mereka serta jadikanlah mereka anak2 yg shaleh)

Copas dari fb saudariku Ummu Ahnaf

sumber gambar : http://estrida.files.wordpress.com/2009/06/baby-hand.jpeg

Ikhlas itu proses

Untuk kesekian kalinya, saya membaca ungkapan yang diriwayatkan dari al-Imam al-Daraquthny rahimahuLlah, seorang ulama hadits besar yang salah satu karyanya, al-‘Ilal, menjadi rujukan penting dalam ilmu hadits. Ungkapan itu bagi saya sangat luar biasa. Terutama karena ia menggambarkan sebuah kondisi yang biasa kita alami. 

Beliau mengatakan:
“Dahulu, kami menuntut ilmu ini bukan karena Allah. Namun ternyata ilmu ini enggan kecuali jika ia dituntut karena Allah semata.”
Boleh jadi, kita tak pernah menyangka. Seorang imam besar seperti al-Daraquthny ternyata di awal perjalanannya menuntut ilmu agama mengakui bahwa ia pun didera oleh ketidakikhlasan. Setiap saat selalu ada bisikan jiwa bahwa engkau belajar agar kelak engkau disebut sebagai “al-Imam”, “al-Muhaddits”, “al-Faqih”, “al-‘Allamah”, dan sebutan-sebutan penghormatan lainnya.
Di saat-saat seperti itu, biasanya terjadilah sebuah tumbukan keras: antara bisikan ketidakikhlasan dengan tuntutan ilmu yang selama ini kita pelajari; bahwa riya’ akan merusak amal. Sebuah pertarungan sengit terjadi dalam diri. Antara keinginan bahwa kelak setelah tiba di level tertentu dari ilmu ini kita akan dimuliakan, dengan kesadaran bahwa pamrih semacam ini keliru dalam menuntut ilmu agama. 

Pada titik ini, banyak orang yang tidak kuat. Tidak sedikit yang rubuh dan menyerah. Segera saja ia mengatakan: “Ah, daripada tidak ikhlas, lebih baik saya berhenti saja menuntut ilmu!” Yang lain berujar: “Apa gunanya belajar al-Qur’an, Hadits, dan Fiqih jika hati ini tidak ikhlas?!”
Demikianlah. Meskipun kekalahan itu seringkali juga merupakan pembenaran terhadap kemalasan kita. Tapi cobalah baca kembali ungkapan al-Imam al-Daraquthny itu: “…Namun ternyata ilmu ini enggan kecuali jika ia dituntut karena Allah semata.” 

Renungkanlah kira-kira kapan beliau sampai pada titik kesimpulan ini? Sehari. Seminggu. Sebulan. Setahun. Tidak! Kesimpulan ini pasti beliau pahami setelah bertahun-tahun menjalani proses menuntut ilmu, sembari menghadapi pertarungan demi pertarungan menghadapi ketidakikhlasan jiwa dan hati…
Meski beliau merasa selalu ada interest pribadi dalam menuntut ilmu, tapi beliau tidak kalah dan berhenti. 

Dan begitulah…sentuhan-sentuhan ayat-ayat Allah, sabda-sabda Rasulullah, dan atsar para sahabat menempa jiwanya. Tahun demi tahun. Ia biarkan kalbunya disirami oleh derasnya ilmu, meski tak jarang ada godaan untuk berhenti dengan alasan ketidakikhlasan. Hingga akhirnya ia sampai ke puncak impian. Meraih kemuliaan sebagai seorang ulama, dan mereguk manisnya keikhlasan.
 
Jadi bila suatu ketika nanti, engkau dibuat ragu untuk menapaki jalan ilmu ini…Engkau digoda untuk mempertanyakan keikhlasanmu…Engkau digoda untuk tidak melanjutkan perjalanan ilmu ini karena ketidakikhlasanmu…Maka jangan berpaling pada godaan itu! Cukup katakan padanya: “Benar saat ini aku belum sepenuhnya ikhlas, namun Allah pasti akan membantuku menjadi hamba yang ikhlas jika aku bersungguh-sungguh melanjutkan perjalanan ini!”
Atau cukup sampaikan padanya apa yang dikatakan oleh al-Imam al-Daraquthny itu. Karena menjadi ikhlas itu adalah proses. (Mks, 05/01/10)
Abul Miqdad al-Madany

Dicopas dari blog abu migdad http://abul-miqdad.blogspot.com/ 
sumber gambar : sumber : http://islamic-education7.blogspot.com