Kamis, 12 Desember 2013

Flash Card Belajar Angka

Penasaran.. koq Abdullah susah banget ya ngapalin angka-angka 0 sampai 10. Padahal sudah berulang-ulang diperkenalkan.. hasilnya.. yang paling dihapal hanya angka 0 dan 7 itupun angka 7-nya masih sering salah.
Klo hafali urutannya sih dah bisa. Tapi membacanya itu loh..

So..berinisiatif untuk merubah metode belajarnya. Back to basic.. pake' metode "iqro" lagi.. yang saya rasa sudah "teruji" buat Abdullah..
Maka, mulailah saya mencoba membuat "flash card" seperti sebelum-sebelumnya.

Hasilnya..alhamdulillah.. cukup memuaskan.. dalam 2-3 hari sudah menghafal angka 1 sampai 5..
Mau belajar angka bersama Abdullah. Silahkan download flashcardnya disini..

Flash Card Suku Kata (huruf vokal)



Termotivasi pada artikel sebelumnya untuk mengajarkan si kecil belajar membaca sejak dini. Saya jadi kepengen membuat perangkat belajar buat mereka seperti waktu belajar iqro' sebelumnya yakni dalam bentuk file-file PDF, yang nantinya bisa di print out dan diajarkan dalam bentuk flashcard..atau cukup diajarkan dalam bentuk file-file PDF juga boleh, tapi hati-hati aja yah pada pengaruh radiasi komputer..^^


Nah, sekarang belajar suku kata latin yukk..
Kali ini diawali dengan huruf vokal. 
Yang ingin mendownload silahkan klik di sini.

Metode belajarnya bisa klik di sini


Ket : isi = 12 lembar PDF

Belajar Membaca Ha (حَ)


Alhamdulillah..akhirnya selesai juga modul lanjutan bacaan iqro'. Mengingat pembuatannya dah kejar tayang..si Abdullah aja dah kemaren-kemaren selesai JA-nya. Ditambah lagi request dari mba' Fitri (salam kenal balik ya mba'..). jadi tambah semangat buat ngelanjutin..

Akhir-akhir ini memang agak sulit untuk melanjutkan pembuatannya karena diusahakan aktifitas di depan komputer hanya pada saat si kecil lagi tidur.

Kami tidak ingin mereka terlalu lama menatap komputer yang kemungkinan bisa mengganggu kesehatan mata mereka yang masih berusia sangat dini..

Itu hanya sekedar intermezo.. bagi yang ingin mendownload silahkan klik di sini

Ket :

Isi : 12 lembar PDF

Rabu, 11 Desember 2013

Mengapa bayi baru lahir harus menangis??

Menangis adalah komunikasi pertama yang diperlihatkan oleh bayi ketika pertama kali dilahirkan oleh sang ibu. Namun, pernahkah anda bertanya tangisan bayi ketika dilahirkan menjadi sangat penting?? Sampai-sampai bayi yang tidak menangis harus dipukul bagian pantatnya atau menyentil tapak atau jari kakinya agar menangis.

Suara tangisan itu menjadi penting karena merupakan alat ukur kesehatan bayi. Tangisan dengan bayi pertanda jantung dan paru-parunya berfungsi dengan baik dan pertanda berfungsinya kemampuan sensoris bayi. Bayi mungil yang dilahirkan di dunia bukanlah makhluk yang tidak berdaya sama sekali. Ia telah memiliki kepekaan atau dikenal dengan kemampuan sensoris. Dengan kemampuan sensorisnya, bayi belajar mengenal lingkungan dan dunia di sekitarnya.

Kemampuan sensorisnya yang mencakup kemampuan panca indra bayi juga merupakan alat komunikasi awal antara bayi dan lingkungannya, khususnya dengan sang ibu. Ini dapat diamati, ketika bayi baru lahir pertama kali. Ia akan menangis dengan kencangnya. Itu terjadi karena bayi harus melalaui jalan yang sempit ketika dilahirkan, tekanan yang menyakitkan di permukaan kulit pada tubuhnya. Tekanan itu terjadi karena ukuran jalan lahir yang memang sempit dipaksa untuk mengeluarkan bayi dalam ukuran besar. Maka wajarlah bila akhirnya bayi menangis..

Sesungguhnya kemampuan sensoris ini sudah nampak ketika bayi dalam kandungan, misalnya ketika bayi berusia di 6 atau 7 bulan, ia mulai senang menggerakkan tubuhnya. Salah satunya diperlihatkan gerakan kaki bayi yang bisa dirasakan sang ibu bahkan kadang terlalu aktif dan keras yang biasanya kita bisa mengamati langsung pada permukaan perut ibu. menakjubkan!!

Untuk menghentikan gerakannya, cobalah mengelus/memegang permukaan perut maka si janin memberikan respon dengan menghentikan gerakan kakinya. Ini salah satu bukti bahwa kepekaan komunikasi sudah dimiliki bayi semenjak dalam kandungan.

Selasa, 10 Desember 2013

Pentingnya Menguasai Seni Bercerita

Melanjutkan artikel sebelumnya tentang “Membacakan Cerita”, kali ini kita membahas mengenai pentingnya seni bercerita dalam menyampaikan cerita.

Seni bercerita haruslah dikuasai seorang ibu, begitu juga dengan ayah. Namun, biasanya ibunya lebih banyak berperan karena frekwensi kebersamaan ibu dan anak biasanya lebih banyak dibandingkan sang ayah. Dengan seni tersebut bisa membuat anak menikamti cerita yang dibacakan, dan hidup bersama lakon-lakonnya.

Akan tetapi hal tersebut tergantung kepada sejauh mana kemampuan ibu dalam menguasai seni ini. Adapun beberapa dari seni bercerita ini adalah :
  1. Menggunakan metode dialog dan pengulangan seperti, “Kira-kira menurtmu apa yang akan terjadi selanjutnya?”
  2. Bercerita dengan alur cerita yang jelas dan mudah dipahami
  3. Memperhatikan intonasi suara, terkadang tinggi rendah suara sesuai dengan adegan dan kejadian. Suara ibu biasanya mempunyai intonasi yang tenang, dan sangat cocok sekali dalam seni bercerita.
  4. Melibatkan gerakan tangan, mimik wajah dan gerakan tubuh seluruhnya. Contohnya, wajah yang menampakkan raut gembira dan sedih sesuai dengan adegan ceritanya.
  5. Anak sangat mudah terpengaruh dengan cerita yang diminatinya, diantaranya cerita yang melibatkan namanya, atau kejadian yang terjadi mengenai orang-orang yang dicintainya atau tempat-tempat yang dikenalnya
  6. Bercerita dengan menunjukkan kasih sayang dan kehangatan pada anak.
  7. Boleh saja memotong cerita agar anak bertambah senang terhadap cerita tersebut. Contohnya:”Insya Allah, ceritanya dilanjutkan lagi besok ya nak..”
Ada catatan penting yang harus diperhatikan. Sejauh mana kemampuan Anda menguasai tentang seni bercerita maka sejauh itu pula cerita yang anda ceritakan akan menarik, berpengaruh dan bermanfaat. Jangan lupa sertakan hati dalam bercerita..

sumber gambar:
http://www.sayyestoasi.com/media/146995/pentingnya-berbicara-dan-me_thumb.jpg

Senin, 09 Desember 2013

Biarkan Mereka Bermain

Dunia anak adalah dunia bermain, itu tak bisa dipungkiri. Bermain dan anak-anak adalah hal yang sangat sulit dipisahkan. Karena sesungguhnya dengan bermainlah mereka mulai mengenal hal-hal yang baru. Dengan bermainlah potensi mereka sedikit demi sedikit terasah. Dengan bermainlah perkembangan motorik mereka berkembang. Dan dengan bermainlah kecerdasan mereka bisa bertambah.

Mereka akan lebih mudah menyerap sesuatu yang kita ajarkan sebagai bentuk stimulasi bagi mereka. Karena mereka tidak merasa “dituntut” sesuatu tapi mereka “fun” dalam melaksanakannya.
Banyak orang tua dengan kecemasan yang berlebihan, melarang “ini” dan “itu” pada saat mereka bermain. Padahal mereka butuh mengembangkan motorik mereka, mereka ingin mengembangkan potensi. Mereka ingin melihat “dunia” dengan cara mereka.  

Cara yang terbaik tentunya dengan cara yang pertengahan, tidak terlalu membatasi mereka untuk hal-hal yang tidak perlu. Namun tidak lantas membebaskan sepenuhnya mereka lakukan, terutama untuk hal-hal yang memang benar-benar membahayakan mereka. Intinya, membebaskan namun tetap dalam pengawasan. Tugas kita adalah menciptakan tempat bermain yang aman untuk mereka..untuk menghindarkan mereka dari hal-hal yang membahayakan.

Minggu, 08 Desember 2013

Pertumbuhan Kepribadian Anak

Kepribadian anak tumbuh dengan cara yang sangat mirip dengan perkembangan tubuh. Keterampilan baru terbentuk setelah ia berhasil mempraktikkan keahlian yang sudah ia kuasai dengan baik. Dasar penting pertama dalam kepribadian yang sehat adalah belajar mengenai kepercayaan.

Awal proses belajar ini dianggap terjadi dalam tahun pertama usia anak. Rasa percaya tentu saja dapat bertambah atau malah berkurang selama masa itu, namun pondasinya berkembang selama 12 bulan pertama.

Untuk membangun sebuah rasa percaya diri yang sehat, anak memerlukan perhatian penuh kasih dan konsisten dari orang yang mengasuh. Orang ini tidak harus orang tuanya, tapi bisa siapa saja.. Yang terbaik bagi si kecil adalah jika orang-orang selalu memberi perhatian kepadanya.

Anak belajar rasa percaya melalui capat terpenuhinya kebutuhan dasar (seperti makanan dan rasa nyaman) yang diberikan dengan penuh perhatian. Jika reaksi Anda selalu tenang dan penuh perhatian saat merespon tangisan lapar dan selalu menyediakan makanan yang cukup, si kecil akan belajar mempercayai Anda.

Jika anda terus menerus berbicara pada si kecil dengan suara keras, tidak memiliki rutinitas yang bisa ditebak, dan sering terjadi perubahan mendadak di rumah, anak akan mulai tidak mempercayai Anda dan orang lain. Jika kepercayaan dasar ini tidak terbentuk, tahapan-tahapan di masa depan akan tertunda atau sulit dicapai anak.
Kembangkan rasa percaaya diri anak dengan :
  • Merespon kebutuhannya dengan cara yang penuh kasih
  • Memluk, menimang dan menunjukkan mainan favoritnya.
  • Memberinya cukup makan jika ia lapar
Tahap kedua perkembangan anak biasanya pada saat anak berusia 1 hingga 3 tahun. Tahap ini disbut fase otonomi versus ragu-ragu (mandiri versus ketegantungan).

Anak belajar bahwa ia dapat mengontrol diri, tubuh dan orang-orang di sekitarnya. Ia gembira jika ia berhasil menguasai suatu keterampilan baru. Rasa ragu hanya akan muncul jika anak dibuat merasa tidak penting atau malu saat ia gagal melakukan sesuatu, atau usahanya malah membuat keadaan kacau. Ia harus berusaha sendiri melakukan sendiri berbagai hal yang dapat ia kontrol, seperti berpakaian, makan tanpa disuapi, dan mandi. Setelah tahap ini dicapai, tekad dan kontrol diri anak pun akan semakin meningkat.

Bantu si kecil mengembangkan kemandiriannya dengan :
  • Terus mendorongnya mengerjakan berbagai hal meski gagal
  • Memastikan bahwa rasa malu dan ejekan tidak menjadi kebiasaan di rumah
  • Membiarkan anak melakukan sesuatu yang bisa ia lakukan dan memuji usaha tersebut
  • Mendorong anak mencoba aktifitas baru yang mudah dipelajarinya, seperti melempar bola atau berguling-guling
  • Tidak terlalu memaksa anak melakukan keterampilan baru setelah ia menunjukkan kepada Anda bahwa ia bisa melakukan keterampilan yang lebih mudah. Biarkan ia menikmati rasa puas karena ia berhasil menguasai tiap keterampilan baru.

Sumber gambar : stimulasiotakanak.blogspot.com