Sabtu, 01 Maret 2014

Yuk.. Melatih putra-putri kita berdo'a dan berdzikir....!!

Berdo’a dan berdzikir kepada Allah merupakan kesibukan yang terbaik, dan cara paling utama bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Berdo’a dan berdzikir adalah kunci segala kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba di dunia dan di akhirat, pencegah segala bentuk keburukan, mendatangkan manfaat dan menolak segala bahaya.

Imam Ibnu Qayyim berkata : “Jika Allah akan memberi kunci kepada seorang hamba, berarti Allah akan membukakan (pintu kebaikan) kepadanya dan jika seseorang disesatkan oleh Allah, berarti ia akan tetap berada di muka pintu tersebut.”


Bila seseorang tidak dibukakan hatinya untuk berdo’a dan berdzikir, maka hatinya akan selalu bimbang, perasaannya gundah gulana, pikirannya kalut, selalu gelisah, hasrat dan keinginannnya menjadi lemah.

Namun bila seotang hamba selalu berdo’a dan berdzikir, selalu memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan, niscaya hatinya menjadi tenang karena ingat kepada Allah.
Allah berfirman :

آَلا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَـئِنَّ القُلُوبْ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Q.S. Ar-Ra’d :28)

Seorang hamba yang selalu menekuni do’a dan dzikir setiap hari dan setiap waktu, termasuk didalamnya membaca Al- Qur’an setiap hari, karena Al-Qur’an adalah sebaik-baik dzikir. dan senantiasa berdo’a dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja., menjauhkan sifat lalai, maka Allah akan menghidupkan hatinya dan memberikan cahaya hatinya.

Maka dari itu mengingat keutamaan do’a dan dzikir yang begitu besar, sudah sepantasnyalah kita membiasakan diri dan anak-anak kita untuk senantiasa berdzikir dan berdo’a kepada Allah.

Sedari dini, kita mulai memperdengarkan kepada anak-anak kita do’a dan dzikir serta ayat-ayat Al-Qur’an..

Sehingga mungkin awalnya mereka hanya terbiasa, akhirnya sedikit demi sedikit bisa menghapalkannya..

Tapi bagaimana caranya ya..sedangkan para orang tua masih banyak yang belum menghapalkan berbagai macam do’a yang dicontohkan oleh Rasulullah, kenapa harus contoh dari Rasulullah??!!

Karena do’a adalah ibadah..dan ibadah tidak akan diterima kecuali dengan syarat ikhlas dan ittiba’ (sesuai sengan contoh yang dicontohkan Rasulullah shalllallaahu ‘alaihi wasallam.

Itulah yang memotivasi kami untuk ke depannya mencoba membuat postingan tentang do’a dan dzikir sehari-hari sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadits yang shahih.. Sebagai sarana bagi kita untuk sama-sama lebih dekat kepada Allah subhaanahu wa ta’aala.

Flash Card Suku Kata (awalan c)

Alhamdulillah..sampai saat ini masih semangat untuk membuat postingan..

Sekarang kita mulai kembali melanjutkan flash card belajar suku kata yang sudah beberapa waktu yang lalu belum berlanjut.. masih terhenti pada flash card awalan b.

Nah, kalau sudah dikuasai, sekarang kita beralih ke suku kata awalan c. Flash card kali ini berisi 30 lembar kombinasi suku kata awalan c ditambah suku kata dari pelajaran sebelumnya..

Bagi yang ingin mendownload silahkan klik di sini

Selamat belajar ya..dan tetap fun..!

Jumat, 28 Februari 2014

Teriris pisau

Biasanya, kalau saya mendapati anak-anakku memegang benda-benda tajam (pisau, gunting, jarum, peniti, dsb) pasti akan berkata, “Hati-hati ya nak”…sambil berusaha mengambil benda tersebut dari mereka.

Kemarin pagi, saat lagi sibuk di dapur mengiris-iris sayur tiba-tiba tanpa sengaja jariku ikut teriris. Spontan saya menyebut, “Astaghfirullah”
Anak-anak yang sementara bermain-main jadi mendekat melihat darah yang mulai keluar dari bekas irisan tadi…

Abdullah bertanya, “Kenapa ummi?”
“Teriris pisau, nak” jawabku sambil berusaha membersihkan sisa-sisa darah yang ada di jariku.
Setelah nampak darahnya berhenti mengalir, saya kembali mengiris sayuran.

Tiba-tiba Abdullah berkata, “Hati-hati ummi”… Saya tersenyum, dia mencontek kata-kataku ^_^
“Iya nak, makanya ummi selalu bilang hati-hati sama Abdullah kalau megang pisau, gunting…karena kalau tidak hati-hati bisa berdarah kayak ummi nih” Abdullah menyimak dengan serius…

Minimal dari kejadian ini, saya bisa memberikan contoh bahayanya memegang benda-benda tajam kalau kurang hati-hati pada mereka.

Manfaatkan kejadian sekecil apapun untuk memberikan pelajaran hidup bagi mereka

sumber gambar http://sidomi.com/wp-content/uploads/2011/10/mengiris-sayuran.jpg

Yuk.. mengenal warna.. (hijau)

Gimana.. udah jago mengenal warna merah dan biru?
Abdullah aja sekali ajar langsung hapal.. Padahal dulunya masih ketuker-tuker. Merah dibilang kuninglah, birulah..

Nah.. sekarang kalau udah lancar kita pindah ya..

Sekarang kita mengenal warna hijau, tapi tetap dengan menyertakan warna sebelumnya..


Untuk para bunda..jangan mengajarkan yang ini dulu ya..sebelum warna sebelumnya belum dikuasai karena bisa-bisa targetnya nggak tercapai.

Bagi yang ingin mendownload, silahkan klik di sini..

Seperti biasa, bisa dibuat sebagai buku atau sebagai flas card, ataupun diajarkan dalam bentuk file pdf.

Mengapa anak berbohong?

berbohong
Berbohong adalah berbicara yang tidak sebenarnya dan dilakukan dengan sengaja, bertujuan untuk memperdayakan orang lain.
Seorang ibu rumah tangga, mempunyai anak yang bru berusia 8 tahun dan sedang duduk di kelas 2 SD. Si ibu merasa sering putus asa mengasuh putranya ini, katakanlah bernama Andi, karena sering berbohong kepada ibunya. Andi seringkali mengatakan yang tidak sebenarnya kepada ibunya.

Andi mengatakan ke timur, tapi kenyataanya dalam tindakannya dia berbuat ke barat. Sebagai akibat dari perbuatannya ini, dia sering mendapat cubitan atau tamparan dari ibunya. Namun, ternyata hal itu tidak membuatnya jera, bahkan intensitas kebohongannya semakin hari grafiknya semakin meningkat.

Pada suatu hari, sepulang dari pasar, ibu Andi menaruh belanjaannya di meja termasuk kue-kue yang disediakan untuk ayahanya..Andi sempat melihatnya.

Setelah melihat ke kiri dan ke kanan serta menngok ke belakang, tidak ada yg lalu lalang, segera diambilnya kue itu dan dilahap. Tidak terpikirkan olehnya untuk siapa sebenarnya kue-kue itu.
Setelah kue tersebut dilahap, ibu Andi datang dan dilihatnya bahwa ada beberapa kue yang hilang. Dia berpaling pada anaknya, bekas kue di bibrnya masih berbekas. Sebagaimana maling yang tertangkap basah, Andi menundukkan kepalanya.

“Andi! Siapa yang mengambil kue-kue dari atas meja?

“Tidak tahum bu, “ Jawab Andi singkat

“Berani kamu berbohong lagi pada ibu ya!”

“Sungguh-sungguh Andi tidak tahu bu.”

“Di rumah ini tidak ada orang lain selain kamu, adik dan ayahmu kan pergi bersama-sama ke kampung melihat nenekmu, siapa lagi kalau bukan kamu yang melahapnya.”

Andi tidak dapat menjawab lagi segala bentuk omelan ibunya, kepalanya semakin memnunduk. Dengan situasi yang demikian, ibunya merasa jengkel, dan selanjutnya mencubit paha Andi. Dasar Andi memiliki otak encer, dia langsung menangis meraung-raung. Sebab berdasarkan pengalamannya dengan menangis meraung-raung, ibunya akan segera menyelesaikan cubitannya. Dan seperti biasa, si ibu sebelum mengakhiri cubitannya akan berkata, “Awas kalau berani sekali lagi berbohong.

Berdasarkan ilustrasi di atas, setiap kebohongan yang dilakukan oleh anak sangat menjengkelkan. Apalagi bukti kebohongannya terlihat jelas.

Mengapa anak berbohong? Mungkin saja anak itu berbohong disebabkan karena orang tua seringkali mencegah si anak untuk menceritakan kejadian atau masalah yang benar. Misalnya Fitri, secara terus terang dia mengatakan bahwa dia memmbenci adiknya, dengan mendengar ucapan ini Fitri langsung saja mendapat cubitan di pahanya. Pada kesempatan Fitri marah lagi dengan adiknya, ibunya datang, hati Fitri masih marah, namun di hadapan ibunya Fitri toh berkata bahwa dia sayang adiknya.
Mendengar ucapan anaknya, si ibu langsung merangkul Fitri dengan mencium dan mengelusnya.

Dari contoh ini disimpulkan, bahwa berbicara benar membuat seoranga anak kesakitan, sedangkan berbicara bohong mendatangkan sesuatu yang menyenangkan. Pengalaman mengajarkan kepada seorang anak bahwa ibu mencinti anaknya yang berbohong.. Hal yang semacam inilah yang sering menyebabkan para ibu mengeluh karena anaknya sering berbohong.

Para ibu sering menyalahkan anakanya yang selalu berbicara bohong.
Dia tidak sadar bahwa anak-anakberbicara bohong tersebut karena didikannya sendiri.

Berbohong meliputi 3 faktor:
  • berbicara yang tidak sebenarnya,
  • dilakukan dengan sengaja,
  • bertujuan memperdayakan orang lain.
Bila orang tua menghendaki anaknya jujur, maka orang tua harus bersedia mengajarkan kebenaran yang manis ataupu pahit, yang baik maupun yang buruk yang diungkapkan oleh anaknya.

Janganlah membuat anak-anak takut untuk mengungkapkan isi hatinya, entah itu isi hati itu baik, tak baik, ataupun netral.

Anak memperhatikan reaksi orang tua terhadap pengungkapan perasaan-perasaannya. Dengan reaksi-reaksi orang tua itulah yang mengajarkan pada si anak, apakah dia sebaiknya bersikap jujur atau sebaliknya.

Berbicara yang tidak sebenarnya juga adalah hasil belajar anak terhadap lingkungannya. Orangtua ataupun masyarakat adalah tempat anak belajar berbohong.

Jika orang tua  pada suatu saat menghukum seorang anak karena anaknya mengatakan yang sebenarnya atau kebenarannya, maka ia akan terdorong untuk berbohong sebagi tindakan pembelaan diri.

Pada dasarnya, manusia mempunyai kebutuhan untuk disayangi oleh sesamanya. Demikian pula anak-anak, kasih sayang dan perhatian orang lain khususnya orangtua sangat diharapkan.

Berbagai bentuk usaha anak untuk memperoleh perhatian mereka. Bentuk yang dipilihnya pun tergantung dari sikap orang tua terhadap tingkah lakunya.

Di dalam keluarga yang terlalu sibuk,sehingga tidak ada  waktu untuk memperhatikan anak-anaknya, ada kecenderungan untuk anak berbuat sesuatu untuk menarik perhatian orang tuanya, meskipun dalam bentuk hukuman. Jadi di sini anak menganggap, hukuman yang diberikan orang tuanya merupakan bentuk perhatian orang tua terhadapnya…

Beberapa macam latar belakang yang menyebabkan anak berbohong adalah merupakan bekal sementara bagi orang tua yang memiliki telinga yang tajam, bahwa kebohongan anak sebenarnya mengungkapkan hal-hal yang hendak disembunyikan si anak, oleh karena itu perlulah kirana bersikap lebih bijaksana terhadap berbagai kebohongan si anak.

Orang tua harus mendalami maknanya, tidak serta merta membantah kebohongan dengan memberikan hukuman. Dari berbagai kebohongan, orang tua akan memperoleh manfaat dan pengetahuan yang memadai mengenai tingkah laku anak-anaknya. Orang tua kemudian dapat menggunakan pengetahuan itu untuk membimbing dan membantu anak-anaknya..

Yuk.. Mengenal Warna.. (merah & biru)

Assalaamu ‘alaikum bunda..

Kali ini kita belajar mengenal WARNA, agar belajarnya lebih fokus.. kita mulai dulu dengan warna merah dan biru..

Sebenarnya, sudah lama saya ingin membuatnya, tapi karena sesuatu hal baru sekarang ini bisa terwujud.

Walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana, saya harap bisa membantu kita untuk mengajarkannya kepada si kecil..
Ebook ini bisa kita ajarkan dalam bentuk, buku, flash card ataupun dalam bentuk file PDF ini saja..
Kalau ada yang ingin mendownload, silahkan di sini ya..
Selamat belajar..!!

Mengatur Uang Saku

uang saku
Uang saku bermanfaat untuk memberikan kepada si anak  pengalaman menggunakan uang untuk tujuan-tujuan tertentu yang dipilihnya sendiri dan atas tanggung jawabnya sendiri. Secara tidak langsung melatih kecerdasan finansial mereka.
Praktek pemberian uang saku kepada anak, berbeda dari keluarga yang satu dengan keluarga yang lainnya. Praktek yang paling umum yang dilaksanakan oleh setiap keluarga ialah memberikan setiap hari sebelum anak berangkat sekolah.

Mungkin saja ada sementara orang yang beranggapan bahwa uang saku diberikan kepada anak-anaknya sebagai suatu hadiah yang dapat dipermainkan oleh orang tua apabila anaknya menolak untuk melakukan perintahnya. Sebagian lagi berpikir bahwa uang saku dianggap sebagai gaji, yaitu upah karena anak telah membantunya atau memiliki tingkah laku yang baik dan pandai disekolah.

Anggapan seperti  ini adalah anggapan yang keliru. Uang saku bukanlah hadiah atau upah kepada si anak karena telah berkelakuan baik. Uang saku sebenarnya merupakan sarana mendidik anak. Uang saku bermanfaat untuk memberikan kepada si anak  pengalaman menggunakan uang untuk tujuan-tujuan tertentu yang dipilihnya sendiri dan atas tanggung jawabnya sendiri. Dengan itu anak belajar memikul tanggung jawab. 

Sebaiknya orang tua jangan terlalu ketat mengawasi penggunaan saku oleh si anak. Pengawasan yang terlalu ketat akan membatasi si anak untuk memilih sendiri atas tanggung jawab sendiri.

Dalam memberikan uang saku, yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan pedoman umum, untuk keperluan apa saja mereka mengharapkan uang itu digunakan. Apakah itu untuk angkot, jajan, alat sekolah atau yang lainnya.

Semakin meningkat usia si anak, jumlah uang sakunya dapat diperbesar sesuai kebutuhannya serta situasi dan kondisi ekonomi keluarga.

Penyelewengan dan penyalahgunaan uang saku bisa saja terjadi karena anak belum bisa memanfaatkan secara tepat guna, yaitu mengeluarkan uang terlalu cepat dan terlalu banyak . Apabila ini terjadi ,hendaknya dibicarakan face to face, denga suasana tenang dan terus terang.

Apabila penyelewengannya tidak bisa terbendung, maka sebaiknya orang tua menempuh kebijaksanaan lain misalnya dengan memberikan uang saku tidak sekaligus tapi sedikit demi sedikit.

Perlu diingat bahwa uang saku bukanlah alat untuk “memeras” atau “menekan” si anak agar mereka menurut segala perintah yang dikeluarkan orang tua.  Walaupun orang tua dalam keadaan marah, janganlah anda menahan uang saku anak anda atau karena sedang bahagia, anda menaikkan uang saku kepada anak.

Jika suatu saat anak-anak memprotes kepada anda bahwa uang sakunya terlalu sedikit, tidak sepadan dengan anak temannya misalnya, maka tindakan yang sebaiknya anda ambil adalah terus terang dengan penuh simpati  misalnya, “Ibu sebenarnya ingin membrikan kepada kamu uang saku lebih banyak, namun kondisi dompet kita sungguh-sungguh tidak mengizinkan”. Beda jika kita misalnya mengatakan, “Barang-barang apa saja yang engkau beli dengan uang sebanyak  itu?!!”

Disarankan kepada orang tua untuk memberikan uang saku dari jumlah yang terkecil terlebih dahulu, kemudian meningkat sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan dan kemampuan orang tua. memberikan uang saku terlalu banyak atau terlalu besar, akan membebani anakdengan tanggung jawab yang besar.

Jika uang saku yang diberikan ternyata dapat dikelola dengan sebaik-baiknya oleh si anak, maka salah satu dari tujuan yang hendak dicapai bisa terwujud yakni menanamkan rsa tanggung jawab terhadap diri si anak.

Tahapan Pemberian Uang Saku



Dalam buku Rich Kids, karya Ahmad Gozali dan Irawati Istadi dipaparkan mengenai tahapan pemberian uang saku pada anak. Berikut rangkuman pemaparannya :

Usia Pra Sekolah

Pada usia ini anak tidak dibiarkan memegang uang sendiri, cukup memberikan ketika ia membutuhkan sesuatu untuk dibeli. Anda bisa membelikan untuknya atau biarkan dia untuk memegang dan memberikan uangnya sebagai pembelajaran. Namun sebaiknya tetap menetapkan batasan nominalnya.

Usia TK

Pada usia ini anak-anak sudah bisa diperbolehkan memegang uang sakunya sendiri selama sekolah. Orang tua bahkan bisa mengajarkan anak-anak berhitung lebih mudah dengan uang daripada angka-angka yang hanya bayangan saja di papan tulis. Namun di usia ini ia belum bisa diminta untuk mengerti batasan uang saku, ia hanya diminta memegang uang pada saat sekolah saja. Di rumah biasanya minta jajan lagi.Namu tetap dengan batasan budget.

Usia SD Awal

Usia SD seharusnya sudah bisa berhitung dengan baik sampai pada pecahan uang yang lebih besar. Pada saat ini kita sudah bisa memberikan uang saku harian. Bukan untuk di sekolah saja tapi juga untuk di rumah.

Program menabung dengan celengan sudah bisa dimulai pada usia ini. Ingat, ajarkan mereka untuk mengisi celengannya sebelum berangkat sekolah bukan sepulangnya agar mereka memahami paradigma menabung yang benar bahwa menabung bukan menyisakan uang tapi mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan tertentu di masa depan.

Usia SD Akhir

Di usia ini, orang tua harus lebih tegas tehadap uang saku. Tidak ada tambahan selain uang saku yang telah diberikan. Berikan pengertian untuk bertanggung jawab terhdap uang sakunya. Belajar berhitung pengeluaran dan belajar menaha keinginan seharusnya sudah tuntas di usia ini.

Usia SMP

Memasuki usia SMP, anak sudah bisa diberikan uang saku pekanan.Karena di usia ini terkadang sudah memliki kebutuhan yang muncul pekanan. Pemberian uang saku pekanan juga akan memberikannya pengalaman baru yang sangat berharga mengenai menahan keinginan untuk belanja. 

Pada usia ini juga mulai bisa dikenalkan proses mencari uang, bukan hanya membelanjakan uang. Dalam usia ini anak-anak juga bisa dikenalkan proses menabung melalui bank.

Usia SMA

Uang saku pada usia ini bisa ditingkatkan menjadi bulanan, bukan lagi pekanan.Dengan memberikannya uang saku bulanan, anak akan punya pengalaman mengelola uang yang lebih luas dan akan sangat bermanfaat pada saat ia menerima gaji bulanannya sendiri.

Di tahap ini, jangan halangi anak jika memiliki ketertarikan pada usaha tertentu atau merasa memiliki keahlian yang bisa ia  manfaatkan. Silahkan saja, jangan membatasi target keuntungan atau apapun. Biarkan mereka menimba pengalamannya sendiri.


Semoga bermanfaat ^_^