Sabtu, 07 Desember 2013

Ibuku sayang (balasan dari surat sang ibu)

Kepada yg tercinta, bundaku yg kusayang
Segala puji bagi Allah… yg telah memuliakan kedudukan kedua orang tua, dan telah menjadikan mereka berdua sebagai pintu tengah menuju surga.
Shalawat serta salam hamba -yg lemah ini- panjatkan keharibaan Nabi yg mulia, keluarga serta para sahabatnya hingga hari kiamat. Amin…

Ibu…
Aku terima suratmu yg engkau tulis dg tetesan air mata dan duka… aku telah membaca semuanya… tidak ada satu huruf pun yg aku sisakan.
Tapi tahukah engkau, wahai Ibu… bahwa aku membacanya semenjak shalat Isya'… Semenjak sholat isya'… aku duduk di pintu kamar, aku buka surat yg engkau tuliskan untukku… dan aku baru selesaikan membacanya setelah ayam berkokok… setelah fajar terbit dan adzan pertama telah dikumandangkan…
Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut, jika ditaruhkan di atas batu, tentu ia akan pecah… Jika engkau letakkan di atas daun yg hijau, tentu dia akan kering…

Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut tidak akan tertelan oleh ayam… Sebenarnya, wahai ibu, suratmu itu bagiku bagaikan petir kemurkaan, yg jika dipecutkan ke pohon yg besar, dia akan rebah dan terbakar…
Suratmu wahai ibu, bagaikan awan Kaum Tsamud, yg datang berarak dan telah siap dimuntahkan kepadaku…

Ibu…
Aku telah baca suratmu, sedangkan air mataku tidak pernah berhenti!! Bagaimana tidak… Jika surat itu ditulis oleh seorang yg bukan ibu dan bukan ditujukan pula kepadaku, layaklah orang yg paling bebal, untuk menangis sejadi-jadinya… Bagaimana kiranya, jika yg menulis itu adalah ibuku sendiri… dan surat itu ditujukan untukku sendiri…

Sungguh aku sering membaca kisah sedih, tidak terasa bantal yg dijadikan tempat bersandar telah basah karena air mata… Bagaimana pula dg surat yg ibu tulis itu!? bukan cerita yg ibu karang, atau sebuah drama yg ibu perankan, akan tetapi dia adalah kenyataan hidup yg ibu rasakan.

Ibuku yg kusayangi…
Sungguh berat cobaanmu… sungguh malang penderitaanmu… semua yg engkau telah sebutkan benar adanya…
Aku masih ingat ketika engkau ditinggalkan ayah pada masa engkau hamil tua mengandung adikku. Ayah pergi entah kemana tanpa meninggalkan uang belanja, jadilah engkau mencari apa yg dapat dimasak di sekitar rumah dari dedaunan dan tumbuhan.
Dg jalan berat engkau melangkah ke kedai untuk membeli ala kadarnya, sambil engkau membisikkan kepada penjual bahwa apa yg engkau ambil tersebut adalah hutang… hutang… yg engkau sendiri tidak tahu, kapan engkau akan dapat melunasinya…

Ibu…
Aku masih ingat ketika kami anak-anakmu menangis untuk dibuatkan makanan, engkau tiba-tiba menggapai atap dapur untuk mengambil kerak nasi yg telah lama engkau jemur dan keringkan…
Tidak jarang pula engkau simpan untukku sepulang sekolah tumbung kelapa, hanya untuk melihat aku mengambilnya dg segera.
Aku masih ingat… engkau sengaja ambilkan air didih dari nasi yg sedang dimasak, ketika engkau temukan aku dalam keadaan sakit demam.

Ibu…
maafkanlah anakmu ini… aku tahu bahwa semenjak engkau gadis, sebagaimana yg diceritakan oleh nenek sampai engkau telah tua seperti sekarang ini, engkau belum pernah mengecap kebahagiaan.
Duniamu hanya rumah serta halamannya, kehidupanmu hanya dg anak-anakmu… Belum pernah aku melihat engkau tertawa bahagia, kecuali ketika kami anak-anakmu datang ziarah kepadamu. Selain dari itu, tidak ada kebahagiaan… Semua hidupmu adalah perjuangan. Semua hari-harimu adalah pengorbanan

Ibu…
Maafkan anakmu ini! Semenjak engkau pilihkan untukku seorang istri, wanita yg telah engkau puji sifat dan akhlaknya… yg engkau telah sanjung pula suku dan negerinya! Semenjak itu pula aku seakan-akan lupa deganmu…

Wahai ibu…
Keberadaan dia sebagai istriku telah membuatku lupa posisi engkau sebagai ibuku… senyuman dan sapaannya telah melupakanku dg himbauanmu.
Ibu… aku tidak menyalahkan wanita pilihanmu tersebut, karena kewajibannya untuk menunaikan tanggung-jawabnya sebagai istri… Aku berharap pada permasalahan ini, engkau tidak membawa-bawa namanya, dan mengaitkan kedurhakaanku kepadamu karenanya… Karena selama ini, di mataku dia adalah istri yg baik, istri yg telah berupaya berbuat banyak untuk suami dan anak-anaknya… Istri yg selalu menyuruh untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ibu…
Ketika seorang laki-laki menikah dg seorang wanita, maka seolah-olah dia telah mendapatkan permainan baru, seperti anak kecil mendapatkan boneka atau orang-orangan. Maafkan aku ibu…
Aku tidaklah membela diriku, karena dari awal dan akhir pembicaraan ini kesalahan ada padaku, anakmu ini… Akan tetapi aku ingin menerangkan keadaan yg aku alami, perubahan suasana setelah engkau dan aku berpisah, tidak satu atap lagi…

Ibu…
Perkawinanku membuatku masuk ke alam dunia baru… dunia yg selama ini tidak pernah aku kenal… dunia yg hanya ada aku, istri dan anak-anakku… Bagaimana tidak, istri yg baik, anak-anak yg lucu-lucu! Maafkan aku Ibu… Maafkan aku anakmu… aku merasa dunia hanya milik kami, aku tidak peduli dg keadaan orang yg penting bagiku… yg penting bagiku adalah keadaan mereka: anak-anak dan istriku…

Ibu…
Maafkan aku, anakmu… Ampunkan aku, anakmu… Aku telah lalai… aku telah alpa… aku telah lupa… aku telah menyia-nyiakanmu…
Aku pernah mendengar kajian, bahwa orang tua difitrahkan untuk cinta kepada anaknya, akan tetapi anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya… Oleh sebab itu, dilarang mencintai anak secara berlebihan, sebagaimana anak dilarang berbuat durhaka kepada orang tuanya… Itulah yg terjadi pada diriku, wahai Ibu!!
Aku pasti akan gila ketika melihat anakku sakit… Aku seperti orang kebingungan ketika melihat anakku diare… Tapi itu sulit, aku rasakan jika hal itu terjadi padamu wahai ibu… Itu sulit aku rasakan, jika seandainya hal itu terjadi pada ibu, dan pada ayah…

Ibu…
Sulit aku merasakan perasaanmu…
Kalaulah bukan karena bimbingan agama yg telah engkau talqinkan kepadaku, tentu aku telah seperti kebanyakan anak-anak yg durhaka kepada orang tuanya!!
Kalaulah bukan karena baktimu pula kepada orang tuamu dan orang tua ayahmu, niscaya aku tidak akan pernah mengenal arti bakti kepada orang tua.
Setelah suratmu datang, baru aku mengerti… Karena selama ini hal itu tidak pernah engkau ungkapkan, semuanya engkau simpan dalam-dalam seperti semua permasalahan berat, yg engkau hadapi selama ini.
Sekarang baru aku mengerti, wahai ibu… bahwa hari yg sulit bagi seorang ibu, adalah hari di mana anak laki-lakinya telah menikah dg seorang wanita… wanita yg telah mendapat keberuntungan…
Bagaimana tidak… Dia dapatkan seorang laki-laki yg telah matang pribadinya dan matang ekonominya, dari seorang ibu yg telah letih membesarkannya… Dari hidup ibu itulah ia dapatkan kematangan jiwa, dan dari uang ibu itu pulalah ia dapatkan kematangan ekonomi… Sekarang, -dg ikhlas- ia berikan kepada seorang wanita yg tidak ada hubungan denganya, kecuali hubungan dua wanita yg saling berebut perhatian seorang laik-laki… Dia sebagai anak dari ibunya dan dia sebagai suami dari istrinya.

Ibuku sayang…
Maafkan aku… Ampunkan diriku… Satu tetesan air matamu adalah lautan api neraka bagiku… Janganlah engkau menangis lagi, janganlah engkau berduka lagi!… Karena duka dan tangismu menambah dalam jatuhku ke dalam api neraka!! Aku takut Ibu…
Kalau itu pula yg akan kuperoleh… kalau neraka pula yg akan aku dapatkan… ijinkan aku membuang semua kebahagiaanku selama ini, hanya demi untuk dapat menyeka air matamu…
Kalau engkau masih akan murka kepadaku, izinkan aku datang kepadamu membawa segala yg aku miliki lalu menyerahkannya kepadamu, lalu terserah engkau… terserah engkau, mau engkau buat apa…
Sungguh ibu, dari hati aku katakan, aku tidak mau masuk neraka, sekalipun aku memiliki kekuasaan Firaun… kekayaan Karun… dan keahlian Haman… Niscaya aku tidak akan tukar dg kesengsaraan di akhirat sekalipun sesaat… Siapa pula yg tahan dg azab neraka, wahai Bunda… maafkan aku anakmu, wahai ibu!!

Adapun sebutanmu tentang keluhan dan pengaduan kepada Allah ta'ala, bahwa engkau belum mau mengangkatnya ke langit… bahwa engkau belum mau berdoa kepada Alloh akan kedurhakaanku… Maka, ampun, wahai Ibu!!
Kalaulah itu yg terjadi… dan do'a itu tersampaikan ke langit! Salah pula ucapan lisanmu!! Apalah jadinya nanti diriku… Apalah jadinya nanti diriku… Tentu aku akan menjadi tunggul yg tumbang disambar petir… apalah gunanya kemegahan, sekiranya engkau do'akan atasku kebinasaan, tentu aku akan menjadi pohon yg tidak berakar ke bumi dan dahannya tidak bisa sampai ke langit, di tengahnya dimakan kumbang pula…
Kalaulah do'amu terucap atasku, wahai bunda… maka, tidak ada lagi gunanya hidup… tidak ada lagi gunanya kekayaan, tidak ada lagi gunanya banyak pergaulan…
Ibu dalam sepanjang sejarah anak manusia yg kubaca, tidak ada yg bahagia setelah kena kutuk orang tuanya. Itu di dunia, maka aku tidak dapat bayangkan bagaimana nasibnya di akherat, tentu ia lebih sengsara…

Ibu…
Setelah membaca suratmu, baru aku menyadari kekhilafan, kealfaan dan kelalaianku.
Ibu… Suratmu akan kujadikan "jimat" dalam hidupku… setiap kali aku lalai dalam asberkhidmat kepadamu akan aku baca ulang kembali… tiap kali aku lengah darimu akan kutalqinkan diriku dengannya… Akan kusimpan dalam lubuk hatiku, sebelum aku menyimpannya dalam kotak wasiatku… Akan aku sampaikan kepada anak keturunanku, bahwa ayah mereka dahulu pernah lalai di dalam berbakti, lalu ia sadar dan kembali kepada kebenaran… ayah mereka pernah berbuat salah, sehingga ia telah menyakiti hati orang yg seharusnya ia cintai, lalu ia kembali kepada petunjuk.

Bunda…
Tua… engkau berbicara tentang tua, wahai bunda…?! siapa yg tidak mengalami ketuaan, wahai ibu!!
Burung elang yg terbang di angkasa, tidak pernah bermain kecuali di tempat yg tinggi… suatu saat nanti dia akan jatuh jua, dikejar, dan diperebutkan oleh burung-burung kecil.
Singa, si raja hutan yg selalu memangsa, jika telah tiba tua, dia akan dikejar-kejar oleh anjing kecil tanpa ada perlawanan… Tidak ada kekuasaan yg kekal, tidak ada kekayaan yg abadi, yg tersisa hanya amal baik atau amal buruk yg akan dipertanggungjawabkan.

Ibu…
Do'akan anakmu ini, agar menjadi anak yg berbakti kepadamu, di masa banyak anak yg durhaka kepada orang tuanya… Angkatlah ke langit munajatmu untukku, agar aku akan memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akherat.

Ibu…
sesampainya suratku ini, insya Allah tidak akan ada lagi air mata yg jatuh karena ulah anakmu… setelah ini tidak ada lagi kejauhan antaraku denganmu…
bahagiamu adalah bahagiaku… kesedihanmu adalah kesedihanku… senyumanmu adalah senyumanku… tangismu adalah tangisku…
Aku berjanji, untuk selalu berbakti kepadamu buat selamanya, dan aku berharap agar aku dapat membahagiakanmu selagi mataku masih bisa berkedip… maka bahagiakanlah dirimu… buanglah segala kesedihan, cobalah tersenyum… Ini kami… aku, istri, dan anak-anak sedang bersiap-siap untuk bersimpuh di hadapanmu, mencium tanganmu.
Salam hangat dari anakmu yg durhaka…
(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh-)

www.addariny.wordpress.com
gambar: http://alqiyamah.files.wordpress.com/2010/03/surat.jpg

Jumat, 06 Desember 2013

Autisme : Apa kemungkinan gejalanya dalam 6 bulan pertama?


Tidak ada gejala yang jelas. Beberapa bayi tampak sangat pasif, yang lain tidak mau diam –tak berbeda dengan bayi lainnya. Semua punya kepribadian karakteristiknya sendiri. 

Sebagian besar orang tua yang anaknya kemudian didiagnosa ASD berkomentar bahwa bayi mereka tampak normal di bulan-bulan awalnya. Meskipun banyak orang tua bertambah khawatir adanya sesuatu yang tidak normal di tahun pertama.

Beberapa keluarga menggambarkan bayi yang sangat pasif atau cepat terganggu, bayi yang tidak mudah ditenangkan.

Hal ini disebabkan banyak faktor, termasuk temperamennya. Beberapa menggambarkanbayi-bayi yang jarang menatap mata orang tuanya, atau sedikit berceloteh atau meniru gerakan atau suara orang tuanya. Ini adalah tanda-tanda yang perlu diperhatikan dan dibicarakan dengan tenaga medis.



Sumber : “How to Live With Autism and Aspeger Syndrome”, Chris Wiliams dan Bary Wright.

Kamis, 05 Desember 2013

Autisme : Apa kemungkinan gejalanya dalam 6 sampai 12 bulan?

Beberapa anak agak lambat perkembangannya, meskipun yang lain tampak berkembang normal. Sebagai ukuran kasarnya, pada usia 12 bulan anak-anak akan merangkak atau mulai berjalan, berdiri jika dipegang, berbicara kata tunggal seperti “mama” atau “papa” dan melakukan sikap tubuh sederhan seperti melambaikan tangan “da dah”. Jika anak Anda mencapai kemajuan ini, dia akan mengembangkan keterampilannya dalam beberapa bulan ke depan.

Bagaimanapun petugas kesehatan ingin memonitor perkembangan anak Anda. Ini tidak berarti anak anda ASD, mungkin ini menandakan kesulitan perkembangan umum lainnya seperti keterlambatan bicara dan bahasa atau keterlambatan perkembangan fisikinya.


Sumber : “How to Live With Autism and Aspeger Syndrome”, Chris Wiliams dan Bary Wright.

Rabu, 04 Desember 2013

Autisme : Apa kemungkinan gejalanya di usia 18 bulan?

Secara umum kekhawatiran pertama timbul saat anak berusia 17 bulan. Berikuta ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
  • tidak melakukan kontak mata yang baik dengan anda.
  • tidak merespon segera jika namanya dipanggil
  • menunjukkan sedikit kepedulian dengan orang lain
  • tampak berada di “dunianya sendiri”
  • mengalami keterlambatan perkembangan bahasanya. Anak-anak biasanya dapat menggunakan 10 kata lebih pada usia ini.
  • kehilangan kemampuan berbahasa. Beberapa anak-anak berhenti menggunakan kata-kata yang biasa ia gunakan sebelumnya dan tak belajar bahasa baru.
  • tidak menggunakan sikap tubuh seperti menunjuk yang mengindikasikan dia menginginkan sesuatu.
  • memegang tangan orang dewasa dan menaruhnya pada sesuatu yang ingin dia buka, lebih daripada menggunakan sikap tubuh, menunjuk da menggunakan kontak tubuh dan bahasa.
  • tampak tidak memahami sikap tubuh anda seperti menunjuk.
  • tidak bermain permainan pura-pura (contohnya, bermain pura-pura minum teh)
  • tampak lebih tertarik pada bagian-bagian dari mainan, daripada bermain dengannya –sebagai contoh, secara terus-menerus memutar roda mobil-mobilan daripada menjalankannya di lantai
  • menghabiskan banyak waktu membariskan benda-benda, dan lebih kesal daripada yang anda perkirakan jika ada yang memindahkannya
  • membuat gerakan tak umum seperti jalan berjingkat di atas jari kaki setiap saat atau menggerakkan ke samping tangannya secara berlebihan
  • memaksa membawa dua benda, satu di setiap tangan, seringkali dengan bentuk dan warna yang sama.

Sumber : “How to Live With Autism and Aspeger Syndrome”, Chris Wiliams dan Bary Wright.

Selasa, 03 Desember 2013

Harga Sebuah Keimanan


Memiliki kawan sejati yang biasa disebut sahabat, dan orang tua tercinta yang selalu memberi apa yang diminta adalah kenikmatan.

Juga kenikmatan ketika dianugrahi pasangan hidup yang baik hati, anak yang menyejukkan pandangan, rumah, kendaraan, pekerjaan mapan, semuanya patut disyukuri. dan masih banyak nikmat lainnya yang tak mampu tertuliskan satu demi satu.

Ternyata pula, nikmat-nikmat yang diuraikan tadi, Allah juga memberikan kepada orang yang ogah-ogahan shalat, enggan membaca Al-Qur'an, pembakhil harta, dan pelaku kemaksiatan lainnya.


Hingga pada orang kafir pun, Allah juga memberi kenikmatan. Fir'aun, orang yang paling kafir sepanjang peradaban manusia, toh Allah juga memberi jabatan tinggi di masyarakat saat itu.

kadangkala "kebalikannya"; kepada orang yang rajib shalat, gemar membaca Al-Qur'an, suka menolong, ternyata kehidupannya melarat, masalahpun kerap mendera,.

Lalu pantaskah Allah dikatakan tidak adil dalam memberi  kenikmatan kepada manusia di dunia ini?

Tidak, kawan! Justru kesenangan dunia boleh jadi menjadi ujian, apa dengannya manusia bersyukur atau malah melupakan Allah. karena ujian terbesar sebenarnya ujian hawa nafsu.

Hawa nafsu yang getol diperturutkan, hingga tanpa sadar, hawa nafsu menjadi sesembahannya. Wal'iyadzu billah..

Sadarkah kita, adakah yang melebihi nilainya dari sekedar uraian nikmat di atas tadi yang anggaplah dinamai nikmat kehidupan?

Ya, tentu saja kawan! Dialah nikmat keimanan, yang semestinya sangat disyukurii. Apalah artinya nikmat kehidupan jika tak bersanding dengan nikmat keimanan, meski rasa iman tak bisa diindera.

Bahkan, dengan nikmat keimanan, seseorang mampu mengorbankan  dunianya demi mendapat kecintaan Allah.

bacalah sejarah, bagaimana syahidah pertama, Sumayyah yang rela mengorbankan jasadnya demi memepertahankan keimanannya, juga sahabat muhajirin yang rela mengorbankan hartnaya untuk hijrah ke madinah., menuju perintah Allah demi mempertahankan iman di dada, dan sederet kisah kepahlawanan sejati dari salafushshalih yang begitu menghargai keimanan.sehingga keimanan adalah puncak kebahagiaan di dunia ini.
Allah anugrahan kepada orang yang dikehendaki-Nya.

Namun begitu, tak jemunya Nabi Ibrahim meminta setelah dikaruniakan Ismail dan Ishaq dalam penantian yang sangat lama dengan do'a

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, Ya Tuhan Kami perkenankanlah do'aku" (Q.S. Ibrahim:40)

Subhanallah, Nabi Ibrahim tidak meminta agar anaknya berlimpah harta, atau memiliki martabat di masyarakat.

Juga sang baginda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam, pemimpin orang beriman dan paling tinggi keimanannya memanjatkan do'a :

"yaa muqallibal quluub tsabbit qalbii 'alaa diinik, yaa musarrifal quluub tsabbit qolbii 'alaa tho'atk"

Keimanan adalah nikmat terbesar dalam nikmat kehidaupan ini. Disyukuri dengan mengejawantahkan iman dalam amalan shalih, meski keimanan itu akan selalu teruji.

Tapi begitulah cara Allah, agar kita kian menghargai keimanan.



Sumber : Majalah "Al-Firdaus edisi 7 2011

Senin, 02 Desember 2013

Jejak hati menuju Allah

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang
Perjalanan menuju Allah Ta'aala
Perjalanan yang kelak hanya menyisakan dua pilihan saja.
Tidak ada yang lain. Keselamatan atau kebiasaan.
Surga atau neraka.

Seringkali bahkan terasa sangat berat.
Hingga di simpang jalannya kite berhenti dan diam.
Dalam hati kita berbisik, haruskah kuhentikan perjalanan ini?
Duhai, andai saja itu bisa kita lakukan, sahabat.
Tapi sayang,. engkau dan aku terlalu mengetahui bahwa ini
bukanlah permainan komidi putar yang dengan mudah meminta untuk dihentikan.

Disini...di perjalanan ini, sekali engkau berjalan
maka pilihannya hanya dua; 
menyelesaikannya dengan baik (husnul khatimah)
atau kehancuran akan menyambutmu (su'ul khatimah)

Di perjalanan ini,kita adalah para pelaut,
yang ketika usai mengembangkan layar kapalnya
lalu mengepalkan tinjunya seraya berteriak.
"Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai"


Begitulah...
Perjalanan ini adalah perjalanan dalam gelap





Ditulis ulang dari majalah Islamy no.2 tahun 1/1426 H





Minggu, 01 Desember 2013

Story puding : Ketika Cinta Harus Diperjuangkan (True Story)


Tengok event blogQuiz yg diadakan @putriamirilis, ternyata deadline-nya besok..sampai lupa..saya kira masih november mendatang..

Postingan dengan tema story Puding (cerita seputar pernikahan). Namun di sini saya tidak ingin bercerita tentang pernikahan kami. Walau memori indah masa-masa awal pernikahan kami akan selalu menjadi kenangan manis, dan hari ini masih tetap manis..mudah-mudahan ke depan akan lebih manis..:) Amin..Yaa Rabb

Kali ini saya akan bercerita tentang pernikahan kawan kami, yang saya pikir cukup "seru" untuk diceritakan..


Bismillah..

Awalnya, saya tidak pernah berpikir apapun tentang pernikahan mereka. Semuanya terlihat baik-baik saja, mereka terlihat begitu bahagia -karena memang mereka bahagia pada saat itu- tapi ternyata mereka menyimpan suatu cerita di awal kisah cinta mereka...

Sebut saja, si lelaki bernama Yusran, dan si wanita bernama Bunga... (kedua nama disamarkan)

Yusran adalah seorang "ikhwah" (baca: pemuda yang paham agama), bekerja sebagai praktisi kesehatan yang kebetulan pernah bertempat tugas yang sama dengan suamiku bekerja.

Sedangkan Bunga, gadis tamatan SMA, pemahaman agamanya pun biasa-biasa saja, tapi insya Allah termasuk gadis yang baik..

Mereka tidak saling mengenal, Yusran secara tidak sengaja melihat Bunga yang ternyata termasuk keluarga dari seorang ustadz yang cukup dekat dengannya.

Dalam hati, Yusran menyimpan keinginan untuk melamar sang Gadis guna menyempurnakan setengah dari ad-dien ini. Dan niat itu disampaikannya ke Ustadz.... Dan ustadz-lah yang menjadi perantara bagi mereka berdua..

Singkat kata..mereka pun menikah.. Saya pun hadir di pernikahan mereka.
Pernikahannya sederhana dengan tata cara islam (baca: mempelai dan undangan pria dan wanita terpisah).

Hal yang tak terduga, ternyata walaupun kedua orang tuanya menerima lamaran Yusran, ternyata mereka memendam ketidak setujuan terhadap pernikahan keduanya..

Dan menyedihkannya, kedua orang tuanya berniat memisahkan mereka berdua.. setelah mereka sudah diikrarkan sebagai suami istri...dengan alasan mereka tidak terima tata cara pernikahannya yang tidak bersanding.. Ditambah lagi, Bunga mulai sedikit demi sedikit nampak keinginannya menutup auratnya dengan sempurna.

Sang orangtua khawatir, Bunga akan terpengaruh pada suaminya. Mungkin mereka berprasangka Yusran memiliki pemahaman sesat.. (padahal kami tahu sekali Yusron sangat jauh dari hal itu)..
Yang jadi pertanyaan, "Kenapa tidak dari dulu mereka menolaknya???". Pertanyaan yang sama yang Bunga lontarkan kepada orang tuanya saat itu..

Yusran pun di usir dari rumah mertua, meninggalkan isterinya yang baru saja dinikahinya.. Padahal seharusnya mereka merasakan "honey moon" seperti umumnya pengantin baru...
Tapi qadarullah, kesabaran Yusran diuji. Dia hanya bisa mengatakan kepada mertuanya, "Apa salah saya??"

Akhirnya Yusran meninggalkan rumah itu, Bunga juga tidak bisa melakukan apa-apa...
Sampai pada saat klimaks, mereka berdua disuruh bercerai, namun Alhamdulillah, pada saat proses mediasi di pengadilan, terbukti bahwa mereka berdua tidak memiliki keinginan untuk berpisah.
Yusran hanya berkata, "Saya mencintai istri saya, apa salah saya??"

Dua kali proses pengadilan, belum ada titik temu...
Yusron pun masih teguh pendiriannya untuk mempertahankan bunga sebagai istrinya...

Hal itu juga sebenarnya yang menjadikan Bunga luluh.
Saya teringat waktu dia bercerita kepadaku, "Awalnya sebenarnya saya pasrah pada orang tua, mengingat mama sempat sakit, saya bilang "Ya Sudahlah". Dalam hati saya juga berkata kami kan memang belum saling mengenal, jadi belum cinta"... Saya memperhatikan dia bercerita dengan serius.

"Tapi, karena melihat keteguhannya untuk mempertahankan saya. Padahal saya pikir toh masih ada wanita lain, tapi kenapa dia begitu teguh pendiriannya mempertahankan saya. Dari situlah ada "rasa"...." lanjutnya..

Saya tersenyum mendengarnya...subhanallah...Allah telah menghadirkan kasih sayang di antara keduanya.

Alhamdulillah, ada seorang tante dari pihak Bunga yang menyetujui pernikahan keduanya, dan menginginkan mereka tetap bersatu.
Melalui perantara dialah mereka berdua bisa berkomunikasi..

Sampai suatu saat, Yusron mengambil keputusan nekat untuk "menculik" isterinya.. (seru bukan.. suami menculik isterinya sendiri)..

Akhirnya rencana disusun, mereka janjian untuk bertemu di wartel terdekat.
Bunga juga "terpaksa" melepaskan jilbabnya (memang pada saat itu istilahnya masih "bongkar pasang").
Karena kalau pakai jilbab, ketahuan kalau dia mau kemana-mana..

Mereka bertemu, dan jadilah Yusran berhasil "menculik" isterinya dengan bermodal motor pinjaman (karena memang waktu itu beliau belum punya motor)

Yusron membawa isterinya ke rumah teman sesama staff di tempatnya bertugas.. Disana Bunga diberi jilbab dan mereka berdua dikurung di kamar. Sampai-sampai diberi makan lewat jendela .. (seru ya!!)

Hp Bunga dimatikan, orang tua Bunga bingung mencari putrinya..
Sampai-sampai mendatangi rumah ustadz yang menjadi perantara pernikahan dulu, sambil memohon-mohon agar putrinya dikembalikan.
Padahal, ustadz sendiri tak tahu apa-apa (karena memang tidak diberi tahu)...

Beberapa hari kemudian, Bunga mengaktifkan hp-nya, serentetan pesan sudah memenuhi inbox-nya.
Akhirnya Bunga berkomunikasi dengan orang tuanya dan berjanji akan pulang tapi dengan syarat mereka berdua tidak dipisahkan lagi..

End of story :

Mereka akhirnya bisa diterima sebagai sepasang suami isteri, orang tua Bunga sudah tidak mau mengungkit kejadian yang lalu.

Mereka kini dikaruniai seorang anak perempuan lucu dan aktif.

Oh iya, ingat motor pinjaman tadi??
Akhirnya, motor tersebut berhasil dibeli oleh Yusron (pemiliknya ingin melanjutkan pendidikan) dengan hasil keringatnya sendiri, sebagai saksi bisu "drama penculikan isterinya" untuk memperjuangkan cinta mereka..

Alhamdulillah, Bunga juga sekarang mulai menutup auratnya, sedikit demi sedikit mendekati sempurna.
Yusran akhirnya bisa memperlihatkan bahwa insya Allah, dia adalah lelaki yang pantas mendampingi Bunga,,

Subhanallah...

Saya hanya bisa berkata, seperti cerita sinetron, tapi walaupun disinetronkan akan menjadi cerita yang membosankan dan biasa-biasa saja.
Namun karena ini adalah Kisah Nyata (true story), menjadikan kisah ini menjadi luaarrr biasa.....

Ada pertanyaan di awal kisah tadi "Kenapa tidak dari dulu??". Itu karena rencana Allah mempertemukan mereka.  Jodoh ada di tangannya. Selalu ada hikmah dibaliknya. Dan yang paling tahu tentang hkmahnya, tentu mereka berdua .

Hikmah yang dapat kupetik dari kisah ini :
  • Rencana Allah pasti indah
  • Allah ingin melihat sampai di mana usaha kita, Yusran memperjuangkan cinta yang halal baginya
  • Inna ma'al Usri Yusraa  (setelah kesulitan PASTI ada kemudahan)
  • Menikah tanpa pacaran.. Why not??
Bagaimana dengan anda??





Kisah ini diikutsertakan pada "A Story Pudding For Wedding" yang diselenggarakan oleh Puteri Amirillis dan Nia Angga